<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Pustaka Abi Aqila</title>
	<atom:link href="http://abiaqila.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abiaqila.wordpress.com</link>
	<description>Barangsiapa yang berpegang teguh dengan sunnahku di kala kerusa­kan umatku, maka baginya ganjaran 100 syahid/ mati dalam perang jihad.                                (HR At-Thabrani dan Al-Baihaqi).</description>
	<lastBuildDate>Sat, 13 Nov 2010 00:10:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='abiaqila.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/d34defa86d13a00ef17568a183a7e9ab?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Pustaka Abi Aqila</title>
		<link>http://abiaqila.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://abiaqila.wordpress.com/osd.xml" title="Pustaka Abi Aqila" />
	<atom:link rel='hub' href='http://abiaqila.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>PENGERTIAN ILMU BERMANFAAT</title>
		<link>http://abiaqila.wordpress.com/2010/11/09/pengertian-ilmu-bermanfaat/</link>
		<comments>http://abiaqila.wordpress.com/2010/11/09/pengertian-ilmu-bermanfaat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Nov 2010 23:05:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abi aqila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiaqila.wordpress.com/?p=884</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Di dalam Al-Qur-an ter­kadang Allah Ta’ala menyebutkan ilmu pada kedudukan yang ter­puji, yaitu ilmu yang ber­man­faat. Dan ter­kadang Dia menyebutkan ilmu pada kedudukan yang ter­cela, yaitu ilmu yang tidak bermanfaat. Adapun yang per­tama, seperti firman Allah Ta’ala, قُل هَل يَستَوِى الَّذينَ يَعلَمونَ وَالَّذينَ لا يَعلَمونَ ۗ “… Katakanlah: ‘Apakah sama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abiaqila.wordpress.com&amp;blog=9437074&amp;post=884&amp;subd=abiaqila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://abiaqila.files.wordpress.com/2009/09/images1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-87" title="kitab2 buku" src="http://abiaqila.files.wordpress.com/2009/09/images1.jpg?w=68&#038;h=91" alt="" width="68" height="91" /></a>Oleh: Al-Ustadz Yazid bin Abdul  Qadir Jawas</strong></p>
<p>Di dalam Al-Qur-an ter­kadang Allah  Ta’ala menyebutkan ilmu pada kedudukan yang ter­puji, yaitu ilmu yang  ber­man­faat. Dan ter­kadang Dia menyebutkan ilmu pada kedudukan yang  ter­cela, yaitu ilmu yang tidak bermanfaat.</p>
<p>Adapun yang per­tama, seperti firman  Allah Ta’ala,</p>
<h2>قُل هَل يَستَوِى الَّذينَ يَعلَمونَ  وَالَّذينَ لا يَعلَمونَ ۗ</h2>
<p><em> </em></p>
<p><em>“… Katakanlah: ‘Apakah sama  orang-orang yang meng­etahui dengan orang-orang yang tidak  meng­etahui?’…”<strong> [Az-Zumar: 9]</strong></em></p>
<p>Firman Allah Ta’ala,</p>
<h2>شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا  إِلٰهَ إِلّا  هُوَ وَالمَلٰئِكَةُ وَأُولُوا العِلمِ قائِمًا بِالقِسطِ ۚ  لا إِلٰهَ  إِلّا هُوَ العَزيزُ الحَكيمُ</h2>
<p><em>“Allah menyatakan bah­wasanya tidak  ada ilah (yang ber­hak diibadahi dengan benar) melainkan Dia, Yang  menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang ber­ilmu (juga  menyatakan yang demikian itu). Tidak ada ilah (yang ber­hak diibadahi  dengan benar) melainkan Dia, Yang Mahaper­kasa lagi Mahabijak­sana.” <strong>[Ali  ‘Imran: 18]</strong></em></p>
<p>Firman Allah Ta’ala.</p>
<h2>وَقُل رَبِّ زِدنى عِلمًا</h2>
<p><em>“… Dan katakanlah: ‘Ya Rabb-ku, tam­bah­kanlah ilmu kepadaku.’” <strong>[Thaahaa:  114]</strong></em></p>
<p>Firman Allah Ta’ala.</p>
<h2>إِنَّما يَخشَى اللَّهَ مِن عِبادِهِ  العُلَمٰؤُا۟</h2>
<p><em>“… Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah  para ulama.”<strong> [Faathir: 28]</strong></em></p>
<p>Firman Allah Ta’ala ten­tang kisah Adam  dan pelajaran yang didapat­kan­nya dari Allah ten­tang nama-nama segala  sesuatu, dan mem­beritahukan­nya kepada para Malaikat. Para Malaikat pun  ber­kata,<em> “Mahasuci Eng­kau, tidak ada yang kami ketahui selain apa  yang telah Eng­kau ajarkan kepada kami; sesung­guh­nya Engkau-lah Yang  Maha Meng­etahui lagi Mahabijak­sana.’” <strong>[Al-Baqarah: 32]</strong></em></p>
<p>Dan firman Allah Ta’ala meng­enai kisah Nabi Musa dengan Nabi  Khidhir. Nabi Musa ber­kata kepadanya,</p>
<h2>قالَ لَهُ موسىٰ هَل أَتَّبِعُكَ عَلىٰ أَن  تُعَلِّمَنِ مِمّا عُلِّمتَ رُشدًا</h2>
<p><em>“Boleh­kah aku meng­ikutimu supaya  kamu meng­ajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang  telah diajarkan kepadamu?” <strong>[Al-Kahfi: 66]</strong></em></p>
<p>Ini semua adalah ilmu yang ber­man­faat.  Dan ter­kadang Allah Ta’ala meng­abarkan keadaan suatu kaum yang  diberikan ilmu, namun ilmu yang ada pada mereka tidak ber­man­faat. Ini  adalah ilmu yang ber­man­faat pada hakikat­nya, namun pemilik­nya tidak  meng­am­bil man­faat dari ilmunya itu. Allah Ta’ala berfirman,</p>
<h2>مَثَلُ الَّذينَ حُمِّلُوا  التَّورىٰةَ  ثُمَّ لَم يَحمِلوها كَمَثَلِ الحِمارِ يَحمِلُ أَسفارًا ۚ  بِئسَ مَثَلُ  القَومِ الَّذينَ كَذَّبوا بِـٔايٰتِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ لا  يَهدِى  القَومَ الظّٰلِمينَ</h2>
<p><em>“Per­um­pamaan orang-orang yang  diberi tugas mem­bawa Taurat, kemudian mereka tidak mem­bawanya (tidak  meng­amal­kan­nya) adalah seperti keledai yang mem­bawa kitab-kitab yang  tebal. Sangat­lah buruk per­um­pamaan kaum yang men­dus­takan ayat-ayat  Allah itu. Dan Allah tidak mem­beri petun­juk kepada orang-orang yang  zalim.” <strong>[Al-Jumu’ah: 5]</strong></em></p>
<p>Adapun ilmu yang Allah Ta’ala sebutkan  pada kedudukan ter­cela, yaitu <strong>ilmu sihir</strong> seperti  firman-Nya,</p>
<h2>وَما يُعَلِّمانِ مِن  أَحَدٍ حَتّىٰ  يَقولا إِنَّما نَحنُ فِتنَةٌ فَلا تَكفُر ۖ فَيَتَعَلَّمونَ  مِنهُما ما  يُفَرِّقونَ بِهِ بَينَ المَرءِ وَزَوجِهِ ۚ وَما هُم  بِضارّينَ بِهِ مِن  أَحَدٍ إِلّا بِإِذنِ اللَّهِ ۚ وَيَتَعَلَّمونَ ما  يَضُرُّهُم وَلا  يَنفَعُهُم ۚ وَلَقَد عَلِموا لَمَنِ اشتَرىٰهُ ما لَهُ  فِى الءاخِرَةِ  مِن خَلٰقٍ ۚ وَلَبِئسَ ما شَرَوا بِهِ أَنفُسَهُم ۚ لَو  كانوا يَعلَمونَ</h2>
<p><em>“… Mereka mem­pelajari sesuatu yang  men­celakakan dan tidak mem­beri man­faat. Dan sung­guh mereka sudah  tahu barang­siapa mem­beli <strong>(meng­gunakan sihir)</strong> itu,  niscaya tidak men­dapat keun­tungan di akhirat. Sung­guh sangat buruk  per­buatan mereka yang men­jual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka  meng­etahui.” <strong>[Al-Baqarah: 102]</strong></em></p>
<p>Dan firman Allah Ta’ala,</p>
<h2>يَعلَمونَ ظٰهِرًا مِنَ الحَيوٰةِ الدُّنيا  وَهُم عَنِ الءاخِرَةِ هُم غٰفِلونَ</h2>
<p><em>“Mereka hanya meng­etahui yang lahir  (tam­pak) dari kehidupan dunia; sedangkan ter­hadap (kehidupan) akhirat  mereka lalai.” <strong>[Ar-Ruum: 7]</strong></em></p>
<p>Karena itulah As-Sunnah mem­bagi ilmu  men­jadi ilmu yang ber­man­faat dan ilmu yang tidak ber­man­faat, juga  meng­an­jurkan untuk ber­lin­dung dari ilmu yang tidak ber­man­faat dan  memohon kepada Allah Ta’ala ilmu yang ber­man­faat. [1]<br />
<span id="more-884"></span><br />
<strong>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah  (wafat th. 728 H) rahimahullaah </strong>meng­atakan, “Ilmu adalah apa  yang dibangun di atas dalil, dan ilmu yang ber­man­faat adalah ilmu yang  dibawa oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ter­kadang ada  ilmu yang tidak ber­asal dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam,  tetapi dalam urusan duniawi, seperti ilmu kedok­teran, ilmu hitung,  ilmu per­tanian, dan ilmu per­dagangan.” [2]</p>
<p><strong>Imam Ibnu Rajab (wafat th. 795  H) rahimahullaah </strong>meng­atakan, “Ilmu yang ber­man­faat  menun­jukkan pada dua hal.</p>
<p><strong>Per­tama, </strong>meng­enal  Allah Ta’ala dan segala apa yang men­jadi hak-Nya ber­upa nama-nama yang  indah, sifat-sifat yang mulia, dan perbuatan-perbuatan yang agung. Hal  ini meng­haruskan adanya pengagungan, rasa takut, cinta, harap, dan  tawak­kal kepada Allah serta ridha ter­hadap takdir dan sabar atas  segala musibah yang Allah Ta’ala berikan.</p>
<p><strong>Kedua,</strong> meng­etahui  segala apa yang diridhai dan dicin­tai Allah ‘Azza wa Jalla dan  men­jauhi segala apa yang dibenci dan dimurkai-Nya ber­upa keyakinan,  per­buatan yang lahir dan bathin serta ucapan. Hal ini meng­haruskan  orang yang meng­etahuinya untuk ber­segera melakukan segala apa yang  dicin­tai dan diridhai Allah Ta’ala dan men­jauhi segala apa yang  dibenci dan dimurkai-Nya. Apabila ilmu itu meng­hasilkan hal ini bagi  pemilik­nya, maka inilah ilmu yang ber­man­faat. Kapan saja ilmu itu  ber­man­faat dan menan­cap di dalam hati, maka sung­guh, hati itu akan  merasa khusyu’, takut, tun­duk, men­cin­tai dan meng­agungkan Allah  ‘Azza wa Jalla, jiwa merasa cukup dan puas dengan sedikit yang halal  dari dunia dan merasa kenyang dengan­nya sehingga hal itu  men­jadikan­nya qana’ah dan zuhud di dunia.” [3]</p>
<p><strong>Imam Mujahid bin Jabr (wafat th.  104 H) rahimahullaah </strong>meng­atakan, “Orang yang faqih adalah  orang yang takut kepada Allah Ta’ala mes­kipun ilmunya sedikit. Dan  orang yang bodoh adalah orang yang ber­buat dur­haka kepada Allah Ta’ala  mes­kipun ilmunya banyak.” [4]</p>
<p>Per­kataan beliau rahimahullaah  menun­jukkan bahwa ada orang yang menun­tut ilmu dan meng­ajar­kan­nya,  namun ilmu ter­sebut tidak ber­man­faat bagi orang ter­sebut karena  tidak mem­bawanya kepada ketaatan kepada Allah Ta’ala.</p>
<p><strong>Imam Ibnu Rajab (wafat th. 795  H) rahimahullaah </strong>meng­atakan, “Ilmu yang paling utama adalah  ilmu tafsir Al-Qur-an, pen­jelasan makna hadits-hadits Nabi shallallaahu  ‘alaihi wa sallam, dan pem­bahasan ten­tang masalah halal dan haram  yang diriwayatkan dari para Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, dan para  imam ter­kemuka yang meng­ikuti jejak mereka…” [5]</p>
<p><strong>Imam al-Auza’i (wafat th. 157 H)  rahimahullaah </strong>ber­kata, “Ilmu itu apa yang dibawa dari para  Shahabat Nabi Muham­mad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, adapun yang  datang dari selain mereka bukanlah ilmu.” [6]</p>
<p>Beliau juga meng­atakan, “Ilmu yang  paling utama adalah ilmu tafsir Al-Qur-an, pen­jelasan makna  hadits-hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan pem­bahasan  ten­tang masalah halal dan haram yang diriwayatkan dari para Shahabat,  Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, dan para imam ter­kemuka yang meng­ikuti jejak  mereka…” [7]</p>
<p><strong>Imam Muham­mad bin Idris  asy-Syafi’i rahimahullaah </strong>meng­atakan, Seluruh ilmu selain  Al-Qur-an hanyalah menyibukkan, kecuali ilmu hadits dan fiqih dalam  rangka men­dalami ilmu agama.</p>
<p>Ilmu adalah yang ter­can­tum di  dalam­nya: ‘Qaalaa, had-datsanaa (telah menyam­paikan hadits kepada  kami)’. Adapun selain itu hanyalah was­was (bisikan) syaitan. [8]</p>
<p>Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa  sallam mem­berikan per­um­pamaan kepada kita meng­enai orang yang faham  ten­tang agama Allah Ta’ala, ia mem­peroleh man­faat dari ilmunya dan  mem­berikan man­faat kepada orang lain. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi  wa sallam juga mem­berikan per­um­pamaan orang yang tidak menaruh  per­hatian pada ilmu agama, dengan kelalaian­nya itu mereka men­jadi  orang yang merugi dan bangkrut.</p>
<p>Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa  sallam ber­sabda,<em> “Per­um­pamaan petun­juk dan ilmu yang Allah  meng­utusku dengan­nya lak­sana hujan deras yang menimpa tanah. Di  antara tanah itu ada yang subur. Ia menerima air lalu menum­buhkan  tanaman dan rerum­putan yang banyak. Di antaranya juga ada tanah kering  yang menyimpan air. Lalu Allah mem­beri manusia man­faat darinya  sehingga mereka meminum­nya, meng­airi tanaman, dan ber­ladang  dengan­nya. Hujan itu juga meng­enai jenis (tanah yang) lain yaitu yang  tan­dus, yang tidak menyimpan air, tidak pula menum­buhkan tanaman.  Itulah per­um­pamaan orang yang memahami agama Allah, lalu ia men­dapat  man­faat dari apa yang Allah meng­utus aku dengan­nya. Juga  per­um­pamaan atas orang yang tidak menaruh per­hatian ter­hadap­nya. Ia  tidak menerima petun­juk Allah yang dengan­nya aku diutus.” [9]</em></p>
<p>Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa  sallam ketika datang mem­bawa ajaran agama Islam, beliau  meng­um­pamakan­nya dengan hujan yang dibutuhkan manusia. Kon­disi  manusia sebelum diutus­nya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam  seperti tanah yang kering, ger­sang dan tan­dus. Kemudian kedatangan  beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mem­bawa ilmu yang ber­man­faat  meng­hidupkan hati-hati yang mati seba­gaimana hujan meng­hidupkan  tanah-tanah yang mati.</p>
<p>Kemudian beliau meng­um­pamakan orang  yang men­dengarkan ilmu agama dengan ber­ba­gai tanah yang ter­kena air  hujan, di antara mereka adalah orang alim yang meng­amalkan ilmunya dan  meng­ajar­kan­nya. Orang ini seperti tanah subur yang menyerap air  sehingga dapat mem­beri man­faat bagi dirinya, kemudian tanah ter­sebut  dapat menum­buhkan tumbuh-tumbuhan sehingga dapat mem­beri man­faat bagi  yang lain.</p>
<p>Di antara mereka ada juga orang yang  meng­habiskan wak­tunya untuk menun­tut ilmu namun dia tidak  meng­amal­kan­nya, akan tetapi dia meng­ajar­kan­nya untuk orang lain.  Maka, dia bagaikan tanah yang ter­genangi air sehingga manusia dapat  meman­faat­kan­nya. Orang inilah yang disebut dalam sabda beliau, “Allah  mem­perin­dah seseorang yang men­dengar perkataan-perkataanku dan dia  meng­ajar­kan­nya seperti yang dia dengar.” Di antara mereka ada juga  yang men­dengar ilmu namun tidak menghafal/menjaganya serta tidak  menyam­paikan­nya kepada orang lain, maka per­um­pamaan­nya seperti  tanah yang ber­air atau tanah yang ger­sang yang tidak dapat menerima  air sehingga merusak tanah yang ada di sekelilingnya.</p>
<p>Dikum­pul­kan­nya per­um­pamaan bagian  per­tama dan kedua disebabkan keduanya sama-sama ber­man­faat. Sedangkan  dipisah­kan­nya bagian ketiga disebabkan ter­cela dan tidak bermanfaat.</p>
<p>Jadi, per­um­pamaan hadits di atas  ter­diri dari 2 (dua) kelom­pok. Per­um­pamaan per­tama telah dijelaskan  sebelum­nya. Sedangkan per­um­pamaan kedua, bagian per­tamanya adalah  orang yang masuk agama Islam namun tidak meng­amalkan dan tidak  meng­ajar­kan­nya. Kelom­pok ini dium­pamakan dengan tanah tan­dus  seba­gaimana yang diisyaratkan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam  dalam sabdanya, “Orang yang tidak menaruh per­hatian ter­hadap­nya.”  Atau dia ber­paling dari ilmu sehingga dia tidak bisa meman­faat­kan­nya  dan tidak pula dapat mem­beri man­faat kepada orang lain.</p>
<p>Adapun bagian kedua adalah orang yang  sama sekali tidak memeluk agama, bahkan telah disam­paikan kepadanya  pengetahuan ten­tang agama Islam, tetapi ia meng­ing­kari dan kufur  kepadanya. Kelom­pok ini dium­pamakan dengan tanah datar yang keras,  dimana air meng­alir di atas­nya, tetapi tidak dapat meman­faat­kan­nya.  Hal ini diisyaratkan dengan sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa  sallam: <em>“Dan tidak peduli dengan petun­juk Allah yang aku diutus  dengannya.”</em></p>
<p><strong>Ath-Thibi ber­kata</strong>,  “Manusia ter­bagi men­jadi dua”.</p>
<p><strong>Per­tama,</strong> manusia yang  meman­faatkan ilmu untuk dirinya namun tidak meng­ajar­kan­nya kepada  orang lain.</p>
<p><strong>Kedua,</strong> manusia yang  tidak meman­faatkan ilmu bagi dirinya, namun ia meng­ajarkan kepada  orang lain.”</p>
<p>Menurut <strong>Ibnu Hajar al-‘Asqalani,</strong> kategori per­tama masuk dalam kelom­pok per­tama. Sebab, secara umum  man­faat­nya ada walaupun ting­katan­nya ber­beda. Begitu juga dengan  tanaman yang tum­buh, di antaranya ada yang subur dan mem­beri man­faat  kepada manusia dan ada juga yang kering. Adapun kategori kedua walaupun  dia meng­er­jakan hal-hal yang wajib dan mening­galkan yang sun­nah,  sebenar­nya dia ter­masuk kelom­pok kedua seperti yang telah kami  jelaskan; dan sean­dainya dia mening­galkan hal-hal wajib, maka dia  adalah orang fasik dan kita tidak boleh meng­am­bil ilmu darinya.</p>
<p>Orang semacam ini ter­masuk dalam sabda  Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:</p>
<p><em>“Orang yang tidak menaruh per­hatian  ter­hadap­nya.” [10]</em></p>
<p>[Disalin dari buku Menun­tut Ilmu Jalan  Menuju Surga “Pan­duan Menun­tut Ilmu”, Penulis Yazid bin Abdul Qadir  Jawas, Pener­bit Pus­taka At-Taqwa, PO BOX 264 – Bogor 16001 Jawa Barat – Indonesia,  Cetakan Per­tama Rabi’uts Tsani 1428H/April 2007M]</p>
<p>___________</p>
<p><strong>Foote Notes</strong></p>
<p>[1]. Disarikan dari kitab Fadhlu ‘Ilmi  Salaf ‘alal Khalaf (hal. 11–13), karya Imam Ibnu Rajab rahimahullaah,  ta’liq dan takhrij Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali Abdul Hamid, cet. I,  Daar ‘Ammar, th. 1406 H.</p>
<p>[2]. Majmuu’ al-Fataawaa (VI/388, XIII/136) dan  Madaarijus Saalikiin (II/488)</p>
<p>[3]. Fadhlu ‘Ilmi Salaf ‘alal Khalaf  (hal. 47).</p>
<p>[4]. Al-Bidaayah wan Nihaayah (V/237).</p>
<p>[5]. Fadhlu ‘Ilmi Salaf ‘alal Khalaf  (hal. 41).</p>
<p>[6]. Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadh­lih  (I/769, no. 1421) dan Fadhlu ‘Ilmi Salaf ‘alal Khalaf (hal. 42).</p>
<p>[7]. Fadhlu ‘Ilmi Salaf ‘alal Khalaf  (hal. 41).</p>
<p>[8]. Diiwaan Imam asy-Syafi’i (hal. 388,  no. 206), dikum­pulkan dan disyarah oleh Muham­mad ‘Abdur­rahim, cet.  Daarul Fikr, th. 1415 H.</p>
<p>[9]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh  al-Bukhari (no. 79) dan Mus­lim (no. 2282), dari Shahabat Abu Musa  al-Asy’ari radhiyallaahu ‘anhu. Lafazh hadits ini milik al-Bukhari.</p>
<p>[10]. Lihat Fat-hul Baari (I/177).</p>
<p>Sum­ber : <a href="http://www.almanhaj.or.id/content/2309/slash/0" target="_blank">www.almanhaj.or.id</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abiaqila.wordpress.com/884/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abiaqila.wordpress.com/884/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abiaqila.wordpress.com/884/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abiaqila.wordpress.com/884/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abiaqila.wordpress.com/884/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abiaqila.wordpress.com/884/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abiaqila.wordpress.com/884/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abiaqila.wordpress.com/884/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abiaqila.wordpress.com/884/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abiaqila.wordpress.com/884/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abiaqila.wordpress.com/884/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abiaqila.wordpress.com/884/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abiaqila.wordpress.com/884/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abiaqila.wordpress.com/884/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abiaqila.wordpress.com&amp;blog=9437074&amp;post=884&amp;subd=abiaqila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiaqila.wordpress.com/2010/11/09/pengertian-ilmu-bermanfaat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5e93d86227409264c4c3490b61448e06?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abi aqila</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abiaqila.files.wordpress.com/2009/09/images1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kitab2 buku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Beberapa Kesalahan Tehadap Al-Qur&#8217;an</title>
		<link>http://abiaqila.wordpress.com/2010/09/20/beberapa-kesalahan-tehadap-al-quran/</link>
		<comments>http://abiaqila.wordpress.com/2010/09/20/beberapa-kesalahan-tehadap-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Sep 2010 23:27:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abi aqila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiaqila.wordpress.com/?p=874</guid>
		<description><![CDATA[I. TENTANG BERKUMPUL UNTUK MEMBACA AL QUR&#8217;AN 1. Membaca Al Qur&#8217;an secara berjama&#8217;ah (koor) Membaca Al Qur&#8217;an termasuk ibadah yang paling afdhal, dan pada prinsipnya hendaklah cara membaca ini disesuaikan dengan cara yang pernah dilakukkan oleh Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Salam dan para shahabatnya Radhiallaahu anhum . Membaca Al Qur&#8217;an dengan satu suara tidak pernah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abiaqila.wordpress.com&amp;blog=9437074&amp;post=874&amp;subd=abiaqila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://abiaqila.files.wordpress.com/2009/10/baca_quran.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-432" title="baca_quran" src="http://abiaqila.files.wordpress.com/2009/10/baca_quran.jpg?w=200&#038;h=150" alt="" width="200" height="150" /></a>I. TENTANG BERKUMPUL UNTUK MEMBACA AL QUR&#8217;AN </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>1. Membaca Al Qur&#8217;an secara berjama&#8217;ah (koor) </strong></p>
<p>Membaca Al Qur&#8217;an termasuk ibadah yang paling afdhal, dan pada prinsipnya hendaklah cara membaca ini disesuaikan dengan cara yang pernah dilakukkan oleh Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Salam dan para shahabatnya Radhiallaahu anhum . Membaca Al Qur&#8217;an dengan satu suara tidak pernah dilakukan oleh Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Salam dan para shahabatnya, akan tetapi mereka membaca sendiri-sendiri atau salah satu dari mereka membaca dan yang lainnya mendengarkan bacaan tersebut. Namun jika tujuannya untuk belajar mengajar Insya Allah tidak apa-apa.</p>
<p>Diriwayatkan dari Ibnu Mas&#8217;ud bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Salam pernah memerintahkan kepadanya untuk membaca Al Qur&#8217;an maka ia berkata: Wahai Rasulullah, apakah aku akan membaca Al Qur&#8217;an untukmu, padahal Al Qur&#8217;an itu diturunkan kepadamu? Maka beliau bersabda: &#8220;Sesungguhnya aku senang untuk mendengarkannya dari selainku.&#8221; (HR. Al Bukhari No. 5050).</p>
<p>Selayaknya kita mencontoh apa yang pernah dilakukan oleh Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Salam dan para sahabatnya, karena beliau pernah bersabda:</p>
<p>&#8220;Barangsiapa mengerjakan suatu perbuatan yang tidak kami perintahkan maka perbuatan itu tertolak.&#8221; (HR. Al Bukhari)<br />
<span id="more-874"></span><br />
<strong>2. Membagi bacaan kepada orang-orang yang hadir </strong></p>
<p>Membagi bacaan kepada hadirin, si fulan juz sekian, fulan yang lain sekian, agar masing-masing membaca, meskipun genap seluruh juz dalam Al Qur&#8217;an tidak di hitung sebagai khatam Al Qur&#8217;an. Kadang mereka berkeyakinan adanya barokah dari bacaan orang yang selainnya sehingga saling mendukung dan dianggap sebagai khatam Al Qur&#8217;an. Cara ini tidak dibenarkan.</p>
<p><strong>3. Bacaan Al Fatihah setelah shalat fardhu atau witir dalam shalat malam </strong></p>
<p>Membaca Al Qur&#8217;an adalah amal yang utama, namun seseorang tidak diperbolehkan mengkhususkan membaca surat atau ayat tertentu pada waktu tertentu dan dengan tujuan tertentu kecuali apa-apa yang telah dikhususkan oleh Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Salam seperti membaca Al Fatihah untuk meruqyah atau dalam tiap rakaat shalat, membaca ayat kursi, Al Ikhlas, Al Falaq dan An-Nas ketika membaringkan badan untuk tidur. Adapun membaca Al-Fatihah setelah shalat fardlu atau shalat witir tidak pernah dilakukan oleh nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Salam .</p>
<p><strong>4. Membaca Al Fatihah setelah selesai berdo&#8217;a </strong></p>
<p>Tidak pernah ada riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Salam dan para shahabat membaca surat tersebut setelah selesai berdo&#8217;a.</p>
<p><strong>II. TENTANG KHATAMAN AL QUR&#8217;AN </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>1. Walimah (perayaan) khataman Al Qur&#8217;an. </strong></p>
<p>Walimah untuk merayakan khatam Al Qur&#8217;an sama sekali tidak pernah ada pada masa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Salam ataupun khulafaur rasydin Radhiallaahu anhum. Bahkan merupakan amalan baru yang diada-adakan. Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Salam bersabda:</p>
<p>Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru dalam urusan kami ini, padahal ia bukan darinya maka ia tertolak.&#8221; (HR. Al Bukhari)</p>
<p><strong>2. Membagikan makanan/snack dan minuman setelah khatam Al Qur&#8217;an di bulan Ramadhan </strong></p>
<p>Pada dasarnya jika ini dilakukan secara kebetulan karena sedang ada makanan atau sesekali saja maka menurut fatwa Lajnah Daimah (Lembaga fatwa di Arab Saudi) tidak jadi soal. Yang jadi permasalahan ialah jika hal itu dilakukan secara rutin dan diyakini sebagai kelengkapan atau kesempurnaan dari ibadah membaca Al Qur&#8217;an, sedangkan kita semua tahu bahwa ibadah yang paling baik adalah yang mencocoki petunjuk Nabi baik ketika permulaan, pertengahan maupun penutupnya.</p>
<p><strong>III. TENTANG BACAAN AL QUR&#8217;AN UNTUK MAYIT </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>1. Bacaan Al Qur&#8217;an untuk mayit </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Perbuatan ini tidak ada dasar dan landasannya. Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Salam dan para shahabat tidak pernah memberi petunjuk tentang hal ini, sedangkan beliau bersabda, dalam sebuah khutbah di hari Jum&#8217;at:</p>
<p>&#8220;Adapun sesudahnya, sungguh sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah. Sebaik-baik jalan hidup ialah jalan hidup Muhammad Shallallaahu &#8216;alaihi wa Salam dan seburuk-buruk perkara (dalam agama) ialah yang diada-adakan (bid&#8217;ah), sedang setiap bid&#8217;ah itu kesesatan.&#8221; (HR. Muslim)</p>
<p>Demikian pula membaca Al Fatihah untuk orang yang telah meninggal</p>
<p>Tidak pernah ada nash yang menjelaskan masalah ini oleh karenanya tidak selayaknya kita melakukan amalan tersebut. Karena pada dasarnya ibadah itu terlarang sehingga ada dalil yang menjelaskan kebolehannya (disyariatkannya).</p>
<p><strong>2. Membaca Al Qur&#8217;an untuk kedua orangtua yang telah meninggal </strong></p>
<p>Ada sebagian pendapat yang membolehkan membaca Al Qur&#8217;an dan mengirimkan pahalannya untuk kedua orangtua, akan tetapi perbuatan ini tidak ma&#8217;tsur dan tidak ada dalil yang mendasarinya. Jika hanya dilakukan sesekali saja dan tidak mengkhususkan waktu tertentu menurut fatwa Syaikh Abdurrahman Al Jibrin (anggota Dewan Ulama Arab Saudi) merupakan sesuatu yang bisa ditolerir.</p>
<p><strong>3. Bacaan Al Fatihah untuk kedua orang tua </strong></p>
<p>Mengkhususkan bacaan Al Fatihah untuk orang yang telah mati, baik kedua orang tua atau selainya adalah bid&#8217;ah. Tidak pernah dilakukan dan dianjurkan oleh Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Salam. Yang disyariatkan adalah mendo&#8217;akan mereka, ketika shalat atau setelahnya, beristighfar dan memohonkan ampunan untuk mereka serta berdoa sesuai dengan yang diajarkan.</p>
<p><strong>IV. TENTANG MEMBACA AL QUR&#8217;AN DIATAS KUBUR </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>1. Membaca Al Qur&#8217;an di atas kubur seseorang </strong></p>
<p>Seorang muslim wajib untuk meniti jalan hidup pendahulu dari umat ini (Salaful Ummah) baik shahabat, Tabi&#8217;in dan para pengikutnya, yang mereka semua berada diatas petunjuk dan kebaikan.</p>
<p>Membaca Al Qur&#8217;an diatas kubur tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan para shahabatnya, oleh karena itu tidak pantas bagi kita mengada-adakannya. Karena perkara yang diada-adakan dalam syariat adalah bid&#8217;ah, dan setiap bid&#8217;ah pasti sesat.</p>
<p>Adapun berdo&#8217;a untuk mayit disisi kubur atau ketika melewati kubur maka tidak apa-apa, yaitu dengan cara berhenti sejenak lalu berdo&#8217;a untuknya seperti mengucapkan: &#8220;Ya Allah ampunilah dia, kasihanilah dia, jagalah dia dari siksa neraka, masukkanlah dia kedalam surga dan yang semisalnya. Akan tetapi jika ia mendatangi kuburan dan berdo&#8217;a untuk dirinya sendiri maka termasuk kategori bid&#8217;ah karena mengkhususkan atau menentukan tempat dilakukannya do&#8217;a, yang ia termasuk ibadah (Syariat).</p>
<p><strong>2. Membaca Al Qur&#8217;an di kuburan dan beristighatsah kepada penghuninya </strong></p>
<p>Membaca Al Qur&#8217;an di atas kubur adalah bid&#8217;ah dan tidak pernah disyariatkan. Dan jika kepergiannya ke kuburan (baik kuburan umum atau kuburan orang yang dianggap sebagai wali) untuk beristighatsah kepada mereka, minta tolong dan minta kemudahan maka ini sudah masuk kategori syirik besar, jika seseorang hendak beristighatsah, berdo&#8217;a dan minta dilepaskan dari kesusahan maka yang bisa menjawab dan memenuhi semua itu hanyalah Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala .</p>
<p><strong>V. TENTANG BEROBAT DENGAN AL QUR&#8217;AN </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>1. Ruqyah (jampi-jampi) dengan Al Qur&#8217;an </strong></p>
<p>Ruqyah atau jampi-jampi baik dengan Al Qur&#8217;an, dzikir-dzikir, dan doa-doa selagi tidak mengandung unsur kesyirikan dan kalimatnya bisa difahami maknanya tidak apa-apa dan dibolehkan. Selain itu harus diyakini bahwa itu hanya sebab yang sama sekali tidak berpengaruh tanpa takdir dan izin Allah. Dari Auf bin Malik, Nabi bersabda:</p>
<p>&#8220;Tidak apa-apa dengan ruqyah selagi tidak mengandung unsur syirik.&#8221; (HR. Muslim)</p>
<p><strong>2. Menggantungkan ayat Al Qur&#8217;an di leher/anggota badan lainya (sebagai jimat) </strong></p>
<p>Hal ini juga tidak diperbolehkan dengan alasan sebagai berikut:</p>
<p>Keumuman hadits tentang larangan menggantungkan jimat dengan tanpa mengecualikan ayat Al Qur&#8217;an.</p>
<p>Untuk preventif (penjagaan), karena kalau jimat dari ayat Al Qur&#8217;an bisa dipakai ada kemungkinan merembet ke yang lainya.</p>
<p>Tidak terlepasnya manusia dari aktivitas biologis, seperti buang air, mandi, hubungan suami isteri dan sebagainya, dimana disitu tidak selayaknya membawa tulisan ayat Al Qur&#8217;an.</p>
<p>Adapun jimat selain ayat Al Qur&#8217;an maka larangannya lebih keras lagi, karena termasuk syirik, sebagaimana sabda Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Salam :</p>
<p>&#8220;Barangsiapa mengagantungkan tamimah (azimat) maka ia telah syirik.&#8221; (HR. Imam Ahmad dalam musnadnya 4/156)</p>
<p><strong>3. Berobat dengan air yang dicelupkan di dalamnya tulisan ayat Al Qur&#8217;an </strong></p>
<p>Sebagian ahli ilmu membolehkan hal ini dengan mengibaratkan sebagaimana ruqyah. Namun yang lebih benar bukan begitu, karena yang diajarkan oleh Nabi n adalah dengan membacanya secara langsung lalu meniupkannya ke anggota badan yang sakit, atau meniupkannya ke air, lalu meminumkan air tersebut kepada yang sakit. Hendaknya kita mengikuti cara-cara yang telah dianjurkan ini karena lebih utama dan lebih selamat. Walahu &#8216;alam.</p>
<p><strong>4. Mengambil berkah dari air yang dicelupkan didalamnya ayat-ayat Al Qur&#8217;an </strong></p>
<p>Berkah disini bisa untuk keluasan harta kepandaian atau ilmu, kesehatan dan sebagainya.Dalam kasus ini tidak pernah ada riwayat yang menyebutkan Nabi n pernah memberi izin atau rukhsah untuk melakukannya. Dan untuk keperluan diatas sudah ada doa-doa yang dianjurkan, jadi kalau seseorang sudah merasa cukup dengan apa yang disyariatkan, maka Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala akan menjadikan kecukupan dan tidak perlu cari-cari yang lain yang tidak diketahui secara pasti sumber dan kebenarannya.</p>
<p>(Sumber, Bida&#8217;un Naas fil Qur&#8217;an, dari fatwa-fatwa Syaikh Bin Baaz, Syaikh Al-Jibrin, Syaikh Al-Fauzan dan Lajnah Daimah) (Dept. Ilmiah)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abiaqila.wordpress.com/874/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abiaqila.wordpress.com/874/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abiaqila.wordpress.com/874/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abiaqila.wordpress.com/874/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abiaqila.wordpress.com/874/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abiaqila.wordpress.com/874/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abiaqila.wordpress.com/874/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abiaqila.wordpress.com/874/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abiaqila.wordpress.com/874/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abiaqila.wordpress.com/874/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abiaqila.wordpress.com/874/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abiaqila.wordpress.com/874/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abiaqila.wordpress.com/874/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abiaqila.wordpress.com/874/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abiaqila.wordpress.com&amp;blog=9437074&amp;post=874&amp;subd=abiaqila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiaqila.wordpress.com/2010/09/20/beberapa-kesalahan-tehadap-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5e93d86227409264c4c3490b61448e06?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abi aqila</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abiaqila.files.wordpress.com/2009/10/baca_quran.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">baca_quran</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cara Memahami Nash Al Qur&#8217;an</title>
		<link>http://abiaqila.wordpress.com/2010/09/15/cara-memahami-nash-al-quran/</link>
		<comments>http://abiaqila.wordpress.com/2010/09/15/cara-memahami-nash-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Sep 2010 06:19:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abi aqila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiaqila.wordpress.com/?p=871</guid>
		<description><![CDATA[1. Memahami Ayat dengan Ayat Menafsirkan satu ayat Qur’an dengan ayat Qur’an yang lain, adalah jenis penafsiran yang paling tinggi. Karena ada sebagian ayat Qur’an itu yang menafsirkan (baca, menerangkan) makna ayat-ayat yang lain. Contohnya ayat : “Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak pernah merasa cemas dan tidak pula merasa bersedih hati.” (Yunus : 62) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abiaqila.wordpress.com&amp;blog=9437074&amp;post=871&amp;subd=abiaqila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft" src="http://elokfatmawati.files.wordpress.com/2010/01/tanda-tanya.jpg?w=126&#038;h=300&#038;h=189" alt="" width="126" height="189" />1. Memahami Ayat dengan Ayat </strong></p>
<p>Menafsirkan satu ayat Qur’an dengan ayat Qur’an yang  lain,  adalah jenis penafsiran yang paling tinggi. Karena ada sebagian  ayat Qur’an itu  yang menafsirkan (baca, menerangkan) makna ayat-ayat  yang lain. Contohnya ayat :</p>
<p><em>“Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu  tidak  pernah merasa cemas dan tidak pula merasa bersedih hati.” (Yunus :  62) </em></p>
<p>Lafadz auliya’ (wali-wali), diterangkan/ditafsirkan  dengan  ayat berikutnya yang artinya : <em>“Yaitu orang-orang yang  beriman dan mereka  selalu bertakwa.” (Yunus : 63) </em></p>
<p>Berdasarkan ayat di atas maka setiap orang yang benar-benar mentaati   perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya, maka  mereka itu  adalah para wali Allah. Tafsiran ini sekaligus sebagai  bantahan orang-orang yang  mempunyai anggapan, bahwa wali itu ialah  orang yang mengetahui perkara-perkara  yang gaib, memiliki kesaktian, di  atas kuburnya terdapat bangunan kubah yang  megah, atau  keyakinan-keyakinan batil yang lain. Dalam hal ini, karamah bukan   sebagai syarat untuk membuktikan orang itu wali atau bukan. Karena  karamah itu  bisa saja tampak bisa pula tidak.</p>
<p>Adapun hal-hal aneh yang ada pada diri sebagian  orang-orang  sufi dan orang-orang ahli bid’ah, adalah sihir, seperti  yang sering terjadi pula  pada orang-orang majusi di India dan lain  sebagainya. Itu sama sekali bukan  karamah, tetapi sihir seperti yang  difirmankan Allah : <em>“Terbayang kepada  Musa, seolah-olah ia merayap  cepat lantaran sihir mereka.” (Thaha: 66) </em><br />
<span id="more-871"></span><br />
<strong>2. Memahami Ayat Al-Qur’an dengan Hadits  Shahih </strong></p>
<p>Menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan hadits shahih  sangatlah  urgen, bahkan harus. Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi  Shallallahu alaihi  wasalam. Tidak lain supaya diterangkan maksudnya  kepada semua manusia.  Firman-Nya : <em>“…Dan Kami turunkan Qur’an  kepadamu (Muhammad) supaya kamu  terangkan kepada umat manusia apa yang  telah diturunkan kepada mereka agar  mereka pikirkan.” (An-Nahl : 44) </em></p>
<p>Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam bersabda : <em> “Ketahuilah, aku sungguh telah diberi Al-Qur’an dan yang seperti Qur’an   bersama-sama.” (HR. Abu Dawud) </em></p>
<p>Berikut contoh-contoh tafsirul ayat bil hadits:</p>
<p>Ayat yang artinya: <em>“Bagi orang-orang yang berbuat  baik,  ada pahala yang terbaik (Surga) dan tambahannya.” (Yunus : 26) </em></p>
<p>Tambahan di sini menurut keterangan Rasulullah, ialah  berupa  kenikmatan melihat Allah. Beliau bersabda : <em>“Lantas tirai  itu terbuka  sehingga mereka dapat melihat Tuhannya, itu lebih mereka  sukai dari pada apa-apa  yang diberikan kepada mereka.” Kemudian beliau  membaca ayat ini : Bagi  orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang  terbaik (Surga) dan tambahannya.  ” (HR. Muslim). </em></p>
<p>Ketika turun ayat, yang artinya: <em>“Orang-orang  yang  beriman dan tidak mencampur-adukan iman mereka dengan  kezhaliman….” (Al-An’am :  82) </em></p>
<p>Menurut Abdullah bin Mas’ud, para sahabat merasa  keberatan  karenanya. Lantas merekapun bertanya, “Siapa di antara kami  yang tidak menzalimi  dirinya, ya Rasul?” Beliau jawab, <em>“Bukan itu  maksudnya. Tetapi yang dimaksud  kezaliman di ayat itu adalah syirik.  Tidakkah kalian mendengar/ucapan Lukman  kepada putranya yang berbunyi:  “Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan  Allah. Karena perbuatan  Syirik (menyekutukan Allah) itu sungguh suatu kezaliman  yang sangatlah  besar.” (HR. Muslim) </em></p>
<p>Dari ayat dan hadits itu dapat dipetik kesimpulan :  Kezaliman  itu urutan-nya bertingkat-tingkat. Perbuatan maksiat itu  tidak disebut syirik.  Orang yang tidak menyekutukan Allah, mendapat  keamanan dan petunjuk.</p>
<p><strong>3. Memahami Ayat dengan Pemahaman Sahabat </strong></p>
<p>Merujuk kepada penafsiran para sahabat terhadap  ayat-ayat  Qur’an seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud sangatlah penting  sekali untuk  mengetahui maksud suatu ayat. Karena, di samping  senantiasa menyertai Rasulullah,  mereka juga belajar langsung dari  beliau. Berikut ini beberapa contoh tafsir  dengan ucapan sahabat,  tentang ayat yang artinya: <em>“Yaitu Tuhan yang Maha  Pemurah yang  bersemayam di atas ‘arsy.” (Thaha 5) </em></p>
<p>Al-Hafiz Ibnu Hajar di dalam Kitab Fathul Baari  berkata,  Menurut Ibnu Abbas dan para ahli tafsir lain, istawa itu  maknanya irtafa’a (naik  atau meninggi).</p>
<p><strong>4. Harus Mengetahui Gramatika Bahasa Arab </strong></p>
<p>Tidak diragukan lagi, untuk bisa memahami dan  menafsiri  ayat-ayat Qur’an, mengetahui gramatika bahasa Arab sangatlah  urgen. Karena Al-Qur’an  diturunkan dalam bahasa Arab.</p>
<p><em>“Sungguh Kami turunkan Al-Qur’an dengan bahasa  Arab  supaya kamu memahami.” (Yusuf : 2) </em></p>
<p>Tanpa mengetahui bahasa Arab, tak mungkin bisa  memahami makna  ayat-ayat Qur’an. Sebagai contoh ayat: <em>“tsummas  tawaa ilas samaa’i”</em>.  Makna istawaa ini banyak diperselisihkan.  Kaum Mu’tazilah mengartikannya  menguasai dengan paksa. Ini jelas  penafsiran yang salah. Tidak sesuai dengan  bahasa Arab. Yang benar,  menurut pendapat para ahli sunnah waljamaah, <em> istawaa</em> artinya <em>‘ala  wa irtafa’a</em> (meninggi dan naik). Karena Allah  mensifati dirinya  dengan <em>Al-’Ali</em> (Maha Tinggi).</p>
<p>Anehnya, banyak orang penganut faham Mu’tazilah yang   menafsiri lafaz <em>istawa</em> dengan <em>istaula</em>. Pemaknaan  seperti ini  banyak tersebar di dalam kitab-kitab tafsir, tauhid, dan  ucapan-ucapan orang.  Mereka jelas mengingkari ke-Maha Tinggian Allah  yang jelas-jelas tercantum dalam  ayat-ayat Al-Qur’an, hadits-hadits  shahih, perkataan para sahabat dan para  tabi’in, Mereka mengingkari  bahasa Arab di mana Al-Qur’an diturunkan dengan  bahasa itu. Ibnu Qayyim  berkata, Allah memerintahkan orang-orang Yahudi supaya  mengucapkan <em>“hitthotun”</em> (bebaskan kami dari dosa), tapi mereka  pelesetkan atau rubah menjadi <em>“hinthotun”</em> (biji gandum). Ini sama  dengan kaum Mu’tazilah yang mengartikan <em>istawa</em> dengan arti <em>istaula.</em></p>
<p>Contoh kedua, pentingnya Bahasa Arab dalam menafsiri  suatu  ayat, misalnya ayat yang artinya:</p>
<p><em>“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada ilah (yang haq)   melainkan Allah…” (Muhammad: 19). </em></p>
<p><em>Ilah</em> artinya <em>al-ma’bud</em> (yang  disembah).  Maka kalimat <em>Laa ilaaha illallaah,</em> artinya <em>laa  ma’buuda illallaah </em>(tidak ada yang patut disembah kecuali Allah  saja). Sesuatu yang disembah  selain Allah itu banyak; orang-orang Hindu  di India menyembah sapi. Pemeluk  Nasrani menyembah Isa Al-Masih, tidak  sedikit dari kaum Muslimin sangat  disesalkan karena menyembah para  wali dan berdo’a meminta sesuatu kepadanya.  Padahal, dengan tegas Nabi  Shallallahu alaihi wasalam berkata, artinya: <em>“Doa  itu ibadah”. (HR  At-Tirmidzi). </em></p>
<p>Nah, karena sesuatu yang dijadikan sesembahan oleh  manusia  banyak macamnya, maka dalam menafsirkan ayat di atas mesti  ditambah dengan kata  haq sehingga maknanya menjadi <em>Laa ma’buuda  haqqon illallaah</em> (tidak ada  sesembahan yang haq kecuali Allah).  Dengan begitu, semua sesembahan-sesembahan  yang batil yakni selain  Allah, keluar atau tidak masuk dalam kalimat tersebut.  Dalilnya ialah  ayat berikut, yang artinya: <em>“Demikianlah, karena sesungguhnya   Allah. Dialah yang haq. Dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru  selain Allah  itulah yang batil.” (Luqman: 30). </em></p>
<p>Dengan diartikannya lafadz ilah menjadi <em>al-ma’buud</em>,   maka jelaslah kekeliruan kebanyakan orang Islam yang berkeyakinan  bahwa Allah  ada di mana-mana dan mengingkari ketinggianNya di atas  ‘Arsy dengan memakai  dalil ayat berikut, yang artinya: <em>“Dan Dialah  Tuhan di langit dan Tuhan di  bumi.” (Az-Zukhruf: 84). </em></p>
<p>Sekiranya mereka memahami arti ilah dengan benar,  nisacaya  mereka tidak memakai dalil ayat tersebut. Yang benar, seperti  yang telah  diterangkan di atas, al-ilah itu artinya: al-ma’buud  sehingga ayat itu artinya  menjadi : “Dan Dialah Tuhan (yang disembah)  di langit dan Tuhan (yang disembah)  di bumi.”</p>
<p>Contoh ketiga, pentingnya mengetahu gramatika bahasa  Arab  untuk supaya bisa menafsiri ayat dengan benar, ialah mengetahui  ungkapan kata  akhir tapi didahulukan, dan kata depan tapi ditaruh di  akhir kalimat. Sebagai  contoh : <em>iyyaaka na’budu wa iyyaaka  nasta’in.</em> artinya: <em>“Hanya  kepadamu kami menyembah, dan hanya  kepadamu pula kami memohon pertolongan.” (Al-Fatihah:  5). </em></p>
<p>Didahulukannya kata <em>iyyaaka</em> atas kata kerja <em> na’budu</em> dan <em>nasta’in</em>, ialah untuk pembatas dan  pengkhususan, maka  maksudnya menjadi <em>laa na’budu illaa iyyaaka  walaa nasta’iinu illaa bika yaa  Allaah, wanakhusshuka bil ‘ibaadah wal  isti’aanah wahdaka. (kami tidak menyembah  siapapaun kecuali hanya  kepadaMu. Kami tidak mohon pertolongan kecuali hanya  kepadaMu, ya  Allah. Dan hanya kepadaMu saja kami beribadah serta memohon   pertolongan). </em></p>
<p><strong>5. Memahami Nash Al-Qur’an dengan Asbabun  Nuzul </strong></p>
<p>Mengetahui sababun nuzul (peristiwa yang melatari  turunnya  ayat) sangat membantu sekali dalam memahami Al-Qur’an dengan  benar.</p>
<p>Sebagai contoh, ayat yang artinya: <em>“Katakanlah:   Panggillah mereka yang kamu anggap sebagai (Tuhan) selain Allah, mereka  tidak  akan memiliki kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan  tidak pula  memindahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu juga  mencari jalan kepada Tuhan  mereka, siapa di antara mereka yang lebih  dekat (kepada Allah) dan mengharapkan  rahmatNya, serta takut akan  adzab-Nya. Karena adzab Tuhanmu itu sesuatu yang  mesti ditakuti.”  (Al-Israa’: 56-57). </em></p>
<p>Ibnu Mas’ud berkata, segolongan manusia ada yang  menyembah  segolongan jin, lantas sekelompok jin itu masuk Islam. Karena  yang lain tetap  bersikukuh dengan peribadatannya, maka turunlah ayat:  Orang-orang yang mereka  seru itu juga mencari jalan kepada Tuhan mereka  (Muttafaq ‘alaih).</p>
<p>Ayat itu sebagai bantahan terhadap orang-orang yang  menyeru  dan bertawassul kepada para nabi atau para wali. Tapi,  sekiranya orang-orang itu  bertawassul kepada keimanan dan kecintaan  mereka kepada para nabi atau wali,  tentu tawassul semacam itu  boleh-boleh saja.</p>
<p>Demikian penjelasan Muhammad Ibn Jamil Zainu dalam  Kitab  kaifa Nafhamul Qur’an.</p>
<p>Dept. Ilmiyah<br />
<strong><span style="font-size:x-small;">Rujukan: Muhammad Ibn Jamil Zainu, Kaifa Nafhamul  Qur’an,  terjemahan Masyhuri Ikhwani: Pemahaman Al-Qur’an, Gema Risalah  Press Bandung,  cetakan pertama, 1997.</span></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abiaqila.wordpress.com/871/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abiaqila.wordpress.com/871/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abiaqila.wordpress.com/871/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abiaqila.wordpress.com/871/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abiaqila.wordpress.com/871/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abiaqila.wordpress.com/871/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abiaqila.wordpress.com/871/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abiaqila.wordpress.com/871/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abiaqila.wordpress.com/871/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abiaqila.wordpress.com/871/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abiaqila.wordpress.com/871/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abiaqila.wordpress.com/871/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abiaqila.wordpress.com/871/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abiaqila.wordpress.com/871/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abiaqila.wordpress.com&amp;blog=9437074&amp;post=871&amp;subd=abiaqila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiaqila.wordpress.com/2010/09/15/cara-memahami-nash-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5e93d86227409264c4c3490b61448e06?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abi aqila</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://elokfatmawati.files.wordpress.com/2010/01/tanda-tanya.jpg?w=200&#038;h=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Sepuluh Pembatal Keislaman</title>
		<link>http://abiaqila.wordpress.com/2010/09/06/sepuluh-pembatal-keislaman/</link>
		<comments>http://abiaqila.wordpress.com/2010/09/06/sepuluh-pembatal-keislaman/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Sep 2010 07:59:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abi aqila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiaqila.wordpress.com/?p=868</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah terjemahan dari kitab Al-Qaul Al-Mufid fii Adillah At-Tauhid Bab: Nawaqidh Al-Islam ‘Asyarah, karya: Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al-Wushabi Al-Yamani -hafizhahullah-, salah seorang murid dari Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i -rahimahullah-. Pertama: Kesyirikan (beribadah kepada selain Allah). Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya, dan Dia mengampuni semua dosa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abiaqila.wordpress.com&amp;blog=9437074&amp;post=868&amp;subd=abiaqila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p><a href="http://abiaqila.files.wordpress.com/2010/09/brokene.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-869" title="brokene" src="http://abiaqila.files.wordpress.com/2010/09/brokene.jpg?w=172&#038;h=129" alt="" width="172" height="129" /></a>Ini adalah terjemahan dari kitab Al-Qaul Al-Mufid fii Adillah  At-Tauhid Bab: Nawaqidh Al-Islam ‘Asyarah, karya: Asy-Syaikh Muhammad  bin Abdil Wahhab Al-Wushabi Al-Yamani -hafizhahullah-, salah seorang  murid dari Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i -rahimahullah-.</p>
<p><strong>Pertama: Kesyirikan (beribadah kepada selain Allah).<br />
</strong>Allah Ta’ala berfirman, <em>“Sesungguhnya Allah tidak akan  mengampuni dosa syirik kepada-Nya, dan Dia mengampuni semua dosa di  bawah dari itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang  mempersekutukan Allah, maka sungguh di telah mengadakan dosa yang  besar.” </em>(QS. An-Nisa’:48)<br />
Allah Ta’ala berfirman,<em> “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang  yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al-Masih putera Maryam”,  padahal Al-Masih (sendiri) berkata: “Wahai Bani Israil, sembahlah Allah  Rabbku dan Rabb kalian”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan  (sesuatu dengan) Allah, Maka Allah akan mengharamkan surga untuknya dan  tempatnya adalah di neraka, tidak ada seorangpun penolong bagi  orang-orang yang zalim.”</em> (QS. Al-Maidah: 72)<br />
<span id="more-868"></span><br />
<strong>Kedua: Berpaling dari Islam dengan lebih memilih agama  Yahudi, Nashrani, Majusi, Komunis, Sekularis, atau selainnya dari  keyakinan yang membawa kekufuran jika dia menyakininya.<br />
</strong>Allah Ta’ala berfirman, <em>“Wahai orang-orang yang beriman,  barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah  akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun  mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut kepada kaum mukminin, yang  bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah,  dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah  karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan  Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” </em>(QS.  Al-Maidah: 54)<br />
Allah Ta’ala berfirman,<em> “Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke  belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka,  setan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan  angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka  (orang-orang munafik) berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa  yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi): “Kami akan mematuhi kalian  dalam beberapa urusan”, sedang Allah mengetahui rahasia mereka.  Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila para malaikat mencabut nyawa  mereka seraya memukul-mukul muka mereka dan punggung mereka? Yang  demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang  menimbulkan kemurkaan Allah dan karena mereka membenci keridhaan-Nya,  sebab itu Allah menghapus amalan-amalan mereka. Atau apakah orang-orang  yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan  menampakkan kedengkian mereka? Dan kalau kami kehendaki, niscaya kami  tunjukkan mereka kepada kalian sehingga kalian benar-benar dapat  mengenal mereka dengan tanda-tandanya, dan kalian benar-benar akan  mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui  perbuatan-perbuatan kalian.” </em>(QS. Muhammad: 25-30)</p>
<p><strong>Ketiga: Orang yang tidak mengkafirkan orang kafir baik dari  Yahudi, Nashrani, Majusi, orang-orang musyrik, atau orang yang mulhid  (Atheis) atau selain itu dari berbagai macam kekufuran. Atau dia  meragukan kekafiran mereka atau dia membenarkan mazhab/ajaran mereka,  maka dia telah kafir.<br />
</strong>Allah Ta’ala berfirman, <em>“Sesungguhnya orang-orang yang  kafir kepada Allah dan rasul-rasulNya, dan bermaksud membeda-bedakan  antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasulNya, dengan mengatakan:  “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian  (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan  (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir). Merekalah  orang-orang yang kafir dengan sebenar-benarnya kekafiran. Kami Telah  menyediakan siksaan yang menghinakan untuk orang-orang yang kafir itu.”</em> (QS. An-Nisa’: 150-151)</p>
<p><strong>Keempat: Orang yang meyakini bahwasanya petunjuk selain  petunjuk Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wassallam- lebih sempurna atau  meyakini bahwa hukum selain hukum yang dibawa oleh Rasulullah  -shallallahu’alaihi wasallam- lebih baik (daripada petunjuk dan hukum  beliau). </strong>Seperti orang-orang yang lebih memilih hukum-hukum  thagut daripada hukum yang dibawa oleh Rasulullah -Shallallahu’alaihi  wasallam-.<br />
Allah Ta’ala berfirman,<em> “Apakah hukum jahiliyah yang mereka  inginkan, dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi  orang-orang yang yakin?”</em> (QS. Al-Maidah: 50)<br />
Allah Ta’ala berfirman, <em>“Barangsiapa mencari agama selain Islam,  maka tidak akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat  termasuk orang-orang yang rugi.”</em> (QS. Ali Imran: 85)</p>
<p><strong>Kelima: Orang yang membenci apa yang dibawa oleh Rasulullah  -shallallahu’alaihi wasallam-, walaupun dia mengamalkannya.<br />
</strong>Allah Ta’ala berfirman, <em>“Dan orang-orang yang kafir, maka  kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghilangkan amalan-amalan mereka.  Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa  yang Allah turunkan maka Allah menghapuskan amalan-amalan mereka.” </em>(QS.  Muhammad: 8-9)</p>
<p><strong>Keenam: Orang yang mengolok-olok (menghina) Allah, Rasul,  Al-Qur’an, agama Islam, malaikat, atau para ulama karena ilmu yang  mereka miliki. </strong>Atau menghina salah satu syiar dari syiar-syiar  Islam seperti, shalat, zakat, puasa, haji, tawaf di Ka’bah,wukuf di  ‘Arafah, atau menghina Masjid, azan, jenggot, atau sunnah-sunnah  Rasulullah -shollallahu’alaihi wasallam lainnya, dan syi’ar-syi’ar agama  Allah, dan tempat-tempat yang disucikan dalam keyakinan Islam serta  yang terdapat keberkahan padanya.<br />
Allah Ta’ala berfirman, <em>“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka  (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab,  “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.”  Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya, dan Rasul-Nya kalian  berolok-olok?” Tidak usah kalian minta maaf, karena kalian telah kafir  setelah beriman. Jika kami memaafkan segolongan kalian (lantaran mereka  taubat), niscaya kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan  mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” </em>(QS.  At-Taubah: 65-66)</p>
<p><strong>Ketujuh: Sihir, termasuk <em>ash-shorfu </em>(merubah  seseorang dari sesuatu yang dicintainya menjadi yang dibencinya) dan <em>al-athfu </em>(mendorong seseorang dari sesuatu yg dibencinya menjadi  dicintainya/pelet dan semacamnya, pent.)<br />
</strong>Allah Ta’ala berfirman, <em>“Dan mereka mengikuti apa yang  dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka  mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak  kafir (tidak mengerjakan sihir), akan tetapi justru setan-setan itulah  yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia  dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu  Harut dan Marut. Keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun  sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (kepada kamu)  sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua  malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat memisahkan antara  seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak bisa  memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin  Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberikan mudharat  kepada mereka dan tidak pula memberi manfaat kepada mereka. Sungguh  mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (Kitab Allah)  dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat  jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka  Mengetahui.” </em>(QS. Al-Baqarah: 102)</p>
<p><strong>Kedelapan: Memberikan pertolongan kepada orang kafir dan  membantu mereka dalam rangka memerangi kaum muslimin.<br />
</strong>Allah Ta’ala berfirman, <em>“Wahai orang-orang yang beriman,  jika kalian mengikuti sebagian dari ahli kitab, niscaya mereka akan  mengembalikan kalian menjadi orang kafir sesudah kalian beriman.  Bagaimanakah kalian (bisa sampai) kafir padahal ayat-ayat Allah  dibacakan kepada kalian dan Rasul-Nya berada di tengah-tengah kalian?  Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya  dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”</em> (QS. Ali  Imron: 100-101)</p>
<p><strong>Kesembilan: Meyakini bahwa ada sebagian manusia yang diberi  keleluasaan untuk keluar dari syariat Rasulullah -shollallahu ’alaihi  wasallam-, </strong>sebagaimana Nabi Khidir diperbolehkan keluar dari  syariat yang dibawa Nabi Musa -‘alaihissalam-.<br />
Allah Ta’ala berfirman, <em>“Dan kami tidak mengutus kamu melainkan  kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan  sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada Mengetahui.”</em> (QS. Saba’: 28)</p>
<p><strong>Kesepuluh: Berpaling dari agama Allah Ta’ala, tidak  mempelajarinya, dan tidak beramal dengannya.<br />
</strong>Allah Ta’ala berfirman, <em>“Dan siapakah yang lebih zalim  daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabbnya,  kemudian dia berpaling darinya? Sesungguhnya kami akan memberikan  pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” </em>(QS. As-Sajdah: 22)<br />
Allah Ta’ala berfirman,<em> “Demikianlah kami kisahkan kepadamu  (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya Kami  telah memberikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al-Quran).  Barangsiapa yang berpaling dari Al-Qur’an, maka sesungguhnya dia akan  memikul dosa yang besar di hari kiamat. Mereka kekal di dalamnya dan  amat buruklah dosa itu sebagai beban bagi mereka di hari kiamat.”</em> (QS. Thaha: 99)</p>
<p>Sumber : <a href="http://al-atsariyyah.com/?p=548" target="_blank">http://al-atsariyyah.com</a>/</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abiaqila.wordpress.com/868/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abiaqila.wordpress.com/868/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abiaqila.wordpress.com/868/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abiaqila.wordpress.com/868/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abiaqila.wordpress.com/868/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abiaqila.wordpress.com/868/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abiaqila.wordpress.com/868/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abiaqila.wordpress.com/868/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abiaqila.wordpress.com/868/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abiaqila.wordpress.com/868/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abiaqila.wordpress.com/868/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abiaqila.wordpress.com/868/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abiaqila.wordpress.com/868/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abiaqila.wordpress.com/868/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abiaqila.wordpress.com&amp;blog=9437074&amp;post=868&amp;subd=abiaqila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiaqila.wordpress.com/2010/09/06/sepuluh-pembatal-keislaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5e93d86227409264c4c3490b61448e06?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abi aqila</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abiaqila.files.wordpress.com/2010/09/brokene.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">brokene</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sering Terucap, Luput Dari Renungan</title>
		<link>http://abiaqila.wordpress.com/2010/08/23/sering-terucap-luput-dari-renungan/</link>
		<comments>http://abiaqila.wordpress.com/2010/08/23/sering-terucap-luput-dari-renungan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Aug 2010 02:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abi aqila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiaqila.wordpress.com/?p=865</guid>
		<description><![CDATA[Banyak di antara kalangan masyarakat awam, masih beranggapan bahwa yang dibawa oleh Islam adalah konsep monotheisme, yaitu konsep agama yang hanya memiliki satu Tuhan. Kebalikannya adalah politheisme, yang menganggap adanya lebih dari satu Tuhan yang disembah. Padahal sejatinya Islam membawa ajaran Tauhid, yang lebih dari sekedar monotheisme. Salah kaprah inilah yang memupuk tumbuhnya berbagai praktek [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abiaqila.wordpress.com&amp;blog=9437074&amp;post=865&amp;subd=abiaqila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://external.ak.fbcdn.net/safe_image.php?d=baf28e93479b20cd826bdb69086ffdf7&amp;url=http%3A%2F%2Frumaysho.com%2Fimages%2Fstories%2Frsz_fire_1.jpg" alt="" width="200" height="150" />Banyak di antara kalangan masyarakat awam, masih beranggapan bahwa  yang dibawa oleh Islam adalah konsep monotheisme, yaitu konsep agama  yang hanya memiliki satu Tuhan. Kebalikannya adalah politheisme, yang  menganggap adanya lebih dari satu Tuhan yang disembah. Padahal sejatinya  Islam membawa ajaran Tauhid, yang lebih dari sekedar monotheisme. Salah  kaprah inilah yang memupuk tumbuhnya berbagai praktek kesyirikan.</p>
<p>Nampaknya, banyak di antara kita belum merenungkan secara mendalam  ayat Qur’an, dzikir dan doa yang hampir setiap hari terucap dari lisan  kita, yang sebenarnya sangat lugas mengikrarkan konsep Tauhid dan bukan  sekedar monotheisme. Ya, konsep Tauhid yang diajarkan Islam sesungguhnya  sangat bisa dipahami dari dzikir, doa dan ayat-ayat sederhana yang  sering dibaca oleh kebanyakan kita. Beberapa di antaranya akan dibahas  pada tulisan ini.<br />
<span id="more-865"></span><br />
<strong>Laa Ilaaha Illallah</strong></p>
<p>Salah satu dari dua kalimat syahadat berbunyi ‘<em>Laa Ilaaha  Illallah</em>‘ atau disebut juga dengan istilah <em>tahlil</em>. Kalimat  ini tentu tidak asing lagi bagi kita, sering kita ucapkan di dalam  maupun di luar shalat, banyak terdapat di dalam Al Qur’an dan merupakan  rukun pertama dari rukun Islam. Bahkan sebagian orang di negeri kita ada  yang membuat ritual berkaitan dengan kalimat ini, yaitu ritual <em>tahlilan</em>.  Ritual ini tentu saja hanya ada di Indonesia dan tidak pernah  dicontohkan oleh Baginda Nabi <em>s</em><em>hallallahu</em><em> </em><em>‘alaihi </em><em>w</em><em>a</em><em> </em><em>sallam</em>.</p>
<p>Kalimat ini merupakan pondasi dari agama seorang muslim. Karena  dengan mengucapkan kalimat ini, seorang muslim telah mengikrarkan konsep  Tauhid. Secara bahasa arab, dan menurut penafsiran pada ulama, makna  dari ‘<em>Laa Ilaaha Illallah</em>‘ adalah ‘tidak ada sesembahan yang  berhak disembah selain Allah’. Dengan kata lain, walaupun sesuai realita  sesembahan lain itu memang ada, namun satu-satunya yang berhak disembah  adalah Allah semata. Menyembah pada hakikatnya adalah mempersembahkan  bentuk-bentuk ibadah semisal, sujud, khauf, doa, shalat, puasa,  berkurban, istighatsah, dll. Maka, orang yang mengucapkan ‘<em>Laa  Ilaaha Illallah</em>‘ konsekuensinya ia tidak boleh sujud, berdoa,  shalat dan ibadah yang lain kepada selain Allah. Tidak kepada berhala,  tidak kepada pohon, tidak kepada batt, tidak kepada kyai, tidak kepada  kuburan, melainkan hanya kepada Allah saja. Oleh karena itulah kaum  Qura’isy bersikeras enggan mengucapkan kalimat ini, padahal mereka juga  menyembah Allah dan mengakui Allah sebagai Rabb pencipta alam semesta.  Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p>قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ  وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ  الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ  يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ</p>
<p>“<em>Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit  dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan  penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati  dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur  segala urusan?” Maka mereka (kaum musyrikin) akan menjawab: “Allah” </em>“  (QS. Yunus: 31)</p>
<p>Namun selain menyembah Allah mereka juga menyembah sesembahan lain  sebagai perantara kepada Allah. Maka ketika diseru untuk mengucapkan ‘<em>Laa  Ilaaha Illallah</em>‘, mereka berkata:</p>
<p>أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا  إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ</p>
<p>“<em>Mengapa Muhammad menjadikan sesembahan-sesembahan itu menjadi  satu sesembahan saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat  mengherankan</em>” (QS. Shaad: 5)</p>
<p>Tidak hanya itu, bahkan marah dan memerangi Rasulullah <em>s</em><em>hallallahu</em><em> </em><em>‘alaihi </em><em>w</em><em>a</em><em> </em><em>sallam</em>.  Padahal sesembahan-sesembahan yang mereka sembah itu hanya sebagai  perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah.</p>
<p>وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا  يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا  عِنْدَ اللَّهِ</p>
<p>“<em>Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat  mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan,  dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di  sisi Allah”</em> ” (QS. Yunus: 18)</p>
<p>Jika konsep Tauhid itu semata-mata mengakui Allah sebagai  satu-satunya Rabb pencipta alam semesta dan boleh beribadah kepada yang  lain dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, tentu kaum musyrikin  ketika itu dengan senang hati mengucapkan ‘<em>Laa Ilaaha Illallah</em>‘  dan tidak perlu marah serta memerangi Nabi <em>s</em><em>hallallahu</em><em> </em><em>‘alaihi </em><em>w</em><em>a</em><em> </em><em>sallam</em>.</p>
<p>Sungguh sangat disayangkan, banyak orang yang bersemangat dalam  dzikir ‘<em>Laa Ilaaha Illallah</em>‘ namun justru berbuat kesyirikan  dengan mempersembahkan bentuk-bentuk ibadah kepada selain Allah.   Renungkanlah..</p>
<p><strong>Iyyaka Na’budu Wa Iyyaka  Nasta’in</strong></p>
<p>Kalimat di atas adalah sebuah ayat dari surat Al Fatihah, yang  tentunya sering kita baca lebih dari 17 kali dalam sehari dan dihafal  hampir oleh semua muslim di seluruh dunia.</p>
<p>إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ</p>
<p>“<em>Hanya kepada Engkaulah kami beribadah, dan hanya kepada  Engkaulah kami meminta pertolongan</em>” (QS. Al Fatihah: 5)</p>
<p>Secara bahasa arab, gaya bahasa ayat ini mengandung makna pembatasan.  Sehingga maknanya ‘<em>Hanya kepadaMu lah satu-satunya kami beribadah,  hanya kepadaMu lah satu-satunya kami memohon pertolongan</em>‘. Ayat ini  menegaskan konsep Tauhid, bahwa peribadatan hanya ditujukan kepada  Allah semata, serta menggantungkan pertolongan hanya kepada Allah.  Bahkan para ulama mengatakan: “Al Fatihah adalah inti Al Qur’an, dan  inti dari Al Fatihah adalah ayat ini”</p>
<p>Orang yang membaca ayat ini, konsekuensinya ia seharusnya hanya  mempersembahkan segala bentuk ibadah hanya kepada Allah. Juga  menggantungkan pertolongan hanya kepada Allah, yaitu meyakini bahwa  Allah-lah yang mentakdirkan terjadinya sebuah keburukan dan hanya  Allah-lah yang dapat mencegah terjadinya keburukan, sehingga hanya  kepada Allah-lah kita memohon pertolongan</p>
<p>وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا  كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ</p>
<p>“<em>Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak  ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia</em>” (QS. Yunus: 107)</p>
<p>Meminta dan menggantungkan pertolongan kepada selain Allah, semisal  dukun, kyai, jin, atau menggunakan jimat, rajah, jampi-jampi, berarti  telah berbuat yang bertentangan dengan surat Al Fatihah ayat 5 ini.</p>
<p><strong>Laa Haula Wa Laa Quwwata  Illa Billah</strong></p>
<p>Kalimat ini adalah dzikir yang sudah tidak asing lagi di telinga dan  lisan kita, dikenal dengan istilah <em>hauqolah</em>. Biasa kita baca  ketika mendengar adzan, ketika setelah shalat, atau ketika melihat  sesuatu yang menakjubkan. Artinya dari kalimat ini adalah ‘<em>Tiada  daya upaya dan tidak ada kekuatan kecuali atas izin Allah Ta’ala</em>‘.  Begitu agungnya kalimat ini sampai-sampai dikatakan sebagai tabungan  surgawi. Rasulullah <em>Shallalahu’alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p>يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ  كُنُوزِ الْجَنَّةِ ». فَقُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « قُلْ  لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ »</p>
<p>“<em>Wahai Abdullah bin Qais, maukah engkau kuberitahu tentang salah  satu tabungan surgawi? Abdullah bin Qais menjawab: ‘Tentu, wahai  Rasulullah’. Ia bersabda: ‘Ucapkanlah laa haula wa laa quwwata illa  billah’</em>” (HR. Bukhari no.4205, Muslim no.7037)</p>
<p>Makna dari kalimat ini adalah, bahwa tercapainya sesuatu, perubahan  kondisi menjadi lebih baik, adalah semata-mata karena kehendak Allah dan  pertolongan dari-Nya. Bukan karena pertolongan dukun, bantuan jin,  keajaiban jimat atau kesaktian kyai. Sama sekali bukan.</p>
<p>Konsekuensinya, memohon kebaikan, memohon tercapainya sesuatu,  menggantungkan pertolongan hanyalah ditujukan kepada Allah Ta’ala.  Inilah konsep Tauhid.</p>
<p><strong>Surat Yaasin</strong></p>
<p>Surat Yasin mengandung banyak pelajaran yang berharga tentang konsep <a href="http://muslim.or.id/aqidah/sering-terucap-luput-dari-renungan.html">Tauhid</a>.  Karena di dalamnya diceritakan tentang orang musyrik dan akibat buruk  yang ia dapatkan, serta orang yang memegang teguh konsep Tauhid dan  akibat baik yang ia dapatkan. Konsep Tauhid dalam surat Yasin sangatlah  kental, terutama dalam ayat tentang seorang lelaki yang mau mengikuti  dakwah utusan Allah yang menyerukan Tauhid, di tengah masyarakat yang  berbuat kesyirikan. Lelaki tersebut berkata :</p>
<p>وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي  وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (22) أَأَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِ آلِهَةً إِنْ  يُرِدْنِ الرَّحْمَنُ بِضُرٍّ لَا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا  وَلَا يُنْقِذُونِ (23)</p>
<p>“<em>Faktor apa yang bisa sampai membuatku tidak menyembah Rabb yang  telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu semua akan  dikembalikan? Untuk apa aku menyembah sesembahan-sesembahan selain-Nya  padahal jika Allah Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan  terhadapku, niscaya syafa’at dari para sesembahan itu tidak memberi  manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak pula dapat  menyelamatkanku?</em>” (QS. Yaasin: 22-23)</p>
<p>Ayat ini menggelitik nalar manusia, yaitu bahwa telah jelas Allah lah  semata yang menciptakan alam beserta isinya dan seluruh manusia. Lalu  mengapa mempersembahkan ritual-ritual ibadah kepada selain Allah?  Sungguh kemusyrikan telah melempar jatuh akal sehat manusia.</p>
<p>Ayat ini juga membantah telak orang yang meminta-minta pertolongan  kepada selain Allah. Karena pertolongan dari sesembahan selain Allah,  tidak bermanfaat jika Allah tidak menghendakinya terjadi. Begitu juga  keburukan  dari sesembahan selain Allah, tidak membahayakan jika Allah  tidak menghendakinya terjadi.</p>
<p>Ayat ini pun merupakan bukti tegas bahwa yang disembah orang musyrik  yang menjadi objek para Rasul mereka sejatinya menyembah Allah <em>Ta’ala</em>.  Namun ada sesembahan-sesembahan lain yang mereka sembah sebagai pemberi  syafa’at. Pengakuan tersebut juga nampak ketika mereka mendustakan  dakwah dari utusan Allah,</p>
<p>قَالُوا مَا أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ  مِثْلُنَا وَمَا أَنْزَلَ الرَّحْمَنُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا  تَكْذِبُونَ</p>
<p>“<em>Kaum musyrikin berkata: “Kamu (utusan Allah) tidak lain hanyalah  manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan  sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka”</em>” (QS. Yaasin:  14)</p>
<p>Namun sangat disayangkan, sebagian orang bersemangat untuk selalu  membaca surat Yasin setiap pekannya, namun belum meresap dalam hati  mereka konsep Tauhid yang terkandung di dalamnya.</p>
<p><strong>Ayat Kursi</strong></p>
<p>Di negeri kita, hampir semua orang menghafal ayat kursi, yaitu surat  Al Baqarah ayat 255. Karena ayat ini diyakini dapat menghalangi gangguan  setan, dan itu memang benar adanya. Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi  Wasallam </em>bersabda,</p>
<p>مَنْ قَالَهَا حِينَ يُمْسِي أُجِيرَ  مِنَّا حَتَّى يُصْبِحَ ، وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُصْبِحُ أُجِيرَ مِنَّا  حَتَّى يُمْسِيَ</p>
<p>“<em>Orang yang membacanya (ayat kursi) ketika sore, ia akan  dilindungi oleh Allah sampai pagi. Orang yang membacanya ketika pagi, ia  akan dilindungi oleh Allah sampai sore</em>” (HR. Ath-Thabrani no. 541,  dishahihkan oleh al-Albani dalam <em>Shahih At Targhib Wa At Tarhib</em> no. 662)</p>
<p>Orang yang merenungkan ayat kursi akan mendapati di dalamnya sarat  akan konsep Tauhid. Semisal firman Allah Ta’ala,</p>
<p>اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ  الْقَيُّومُ</p>
<p>“<em>Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia.Yang  hidup kekal serta terus menerus mengurus makhluk-Nya</em>” (QS. Al  Baqarah: 255)</p>
<p>Ayat ini sebagaimana makna yang terkandung dalam dzikir ‘laa ilaaha  illallah’. Dalam bagian ayat lainnya,</p>
<p>مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ  بِإِذْنِهِ</p>
<p>“<em>Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya</em>”  (QS. Al Baqarah: 255)</p>
<p>Berkaitan dengan ayat ini, Allah Ta’ala juga berfirman,</p>
<p>قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا ۖ لَهُ  مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ</p>
<p>“<em>Katakanlah (wahai Muhammad): “Hanya kepunyaan Allah syafa’at itu  semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian  kepada-Nya-lah kamu dikembalikan” </em>“ (QS. Az Zumar: 44)</p>
<p>Ayat-ayat ini memberi pengajaran bahwa syafa’at itu sepenuhnya milik  Allah <em>Ta’ala</em>. Dan syafa’at dapat diberikan semata-mata atas  izin Allah Ta’ala. Memang benar bahwa sebagian makhluk Allah ada yang  dapat memberi syafa’at, itu pun terbatas pada orang-orang yang diizinkan  oleh Allah untuk memberi syafa’at. Sehingga tidak boleh sembarang kita  mengklaim kyai Fulan, habib Fulan, mbah Fulan bisa memberi syafa’at  padahal tidak ada keterangan bahwa Allah Ta’ala mengizinkan mereka untuk  memberi syafa’at.</p>
<p>Pengajaran lain, baginda Nabi <em>s</em><em>hallallahu</em><em> </em><em>‘alaihi </em><em>w</em><em>a</em><em> </em><em>sallam </em>memang diizinkan  oleh Allah untuk memberi syafa’at. Namun syafa’at dari Baginda Nabi   tidak dapat diberikan kepada salah seorang di antara kita tanpa izin  Allah Ta’ala. Seseorang tidak akan mendapatkan syafa’at jika Allah tidak  me-ridhai dia untuk mendapatkannya, walau orang tersebut telah  memintanya kepada Nabi <em>s</em><em>hallallahu</em><em> </em><em>‘alaihi </em><em>w</em><em>a</em><em> </em><em>sallam </em>ribuan kali. Jika  demikian, bukankah seharusnya kita memohon syafa’at tersebut kepada  Allah dan bukan memohonnya kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam?  Terlebih lagi berdoa memohon syafa’at kepada Nabi <em>Shallallahu’alaihi  Wasallam</em> bertentangan dengan konsep Tauhid bahwa doa hanya  ditujukan kepada Allah semata.</p>
<p><strong>Ta’awudz</strong></p>
<p>Yaitu ucapaan,</p>
<p>أعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ  الرَّجِيمِ</p>
<p>“<em>Aku berlindung kepada Allah dari gangguan dan godaan syaithan  yang terkutuk</em>”</p>
<p>Sungguh aneh jika ada yang orang yang lisannya telah akrab dengan  kalimat ini, ketika ditimpa bahaya ia malah meminta perlindungan dari  dukun, paranormal, kyai, atau pihak-pihak lain yang pada hakikatnya  tidak memiliki kekuasaan untuk melindungi. Bahkan mereka sendiri tidak  bisa melindungi diri mereka dari keburukan yang ditakdirkan oleh Allah  terhadap mereka. Perlindungan yang sebenarnya hanya datang dari Allah  Ta’ala.</p>
<p>وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا  كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ</p>
<p>“<em>Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak  ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia</em>” (QS. Yunus: 107)</p>
<p>Oleh karena itulah, Allah Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk  meminta perlindungan hanya kepada Allah.</p>
<p>وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ  نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ</p>
<p>“<em>Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah  perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi  Maha Mengetahui</em>” (QS. Fushilat: 36)</p>
<p>Bahkan orang yang meminta perlindungan kepada selain Allah, justru  mendapatkan poin negatif dari Allah Ta’ala.</p>
<p>وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ  يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا</p>
<p>“<em>Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia  meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka  jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan</em>“ (QS. Al Jin:  6)</p>
<p><strong>Dzikir Setelah Shalat</strong></p>
<p>Doa yang sering kita baca setelah shalat ini berbunyi,</p>
<p>لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَحْدَهُ لاَ  شَرِيكَ لَهُ ، اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ ، وَلاَ مُعْطِىَ  لِمَا مَنَعْتَ ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ</p>
<p>“<em>Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata,  tidak ada sekutu baginya. Segala kekuasaan dan pujian adalah milik  Allah. Dan Ia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Allahumma (Ya Allah),  tidak ada yang dapat menghalangi jika Engkau memberikan sesuatu, dan  tidak ada yang dapat memberi jika Engkau telah menghalanginya. Tidak  berguna kekayaan seseorang dihadapun-Mu wahai Dzat Yang Maha Kaya</em>”   (HR. Bukhari no.6615 dan Muslim no.477)</p>
<p>Sekali lagi, dzikir ini menegaskan konsep Tauhid, yaitu ‘<em>walaupun  pada realitanya sesembahan selain Allah itu memang ada, namun yang  berhak untuk disembah hanyalah Allah</em>‘. Dan tidak ada sekutu yang  menandingi Allah, berupa sesembahan lain yang juga berhak disembah  sekalipun dari kalangan Malaikat atau para Nabi atau yang lain.</p>
<p>Dzikir ini juga menegaskan bahwa doa hanyalah ditujukan kepada Allah  bukan kepada selain-Nya. Karena Allah-lah yang memiliki hak veto untuk  memberi kebaikan dan keburukan atau tidak memberinya.</p>
<p>“<em>Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak  ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki  kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya</em>”  (QS. Yunus: 107)</p>
<p>Dzikir yang diajarkan oleh Nabi <em>s</em><em>hallallahu</em><em> </em><em>‘alaihi </em><em>w</em><em>a</em><em> </em><em>sallam</em> ini berisi  puji-pujian terhadap Allah terutama memuji kebesaran Allah dalam hal  kekuasaan-Nya untuk memberi kebaikan atau keburukan. Berkaitan dengan  hal tersebut, digunakannya lafadz ‘<em>Allahumma</em>‘ di sini  memberikan pengajaran bahwa permintaan kita kepada Allah disampaikan  langsung kepada Allah tanpa melalui perantara siapa pun.</p>
<p>“<em>Dan Allah berfirman: “Berdoalah (langsung) kepada-Ku, niscaya  akan Kukabulkan</em>” (QS. Al Mu’min: 60)</p>
<p>Demikian, semoga kita dan seluruh umat muslim berhenti sejenak saja  untuk merenungkan kalimat-kalimat di atas yang senantiasa meluncur deras  dari lisan kita, sehingga dapat kita resapi hakikat ajaran Tauhid yang  agung yang merupakan modal utama untuk mengharap secercah Rahmat dari  Allah Ta’ala di hari akhir kelak.</p>
<p>Penulis: Yulian Purnama</p>
<p>Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abiaqila.wordpress.com/865/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abiaqila.wordpress.com/865/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abiaqila.wordpress.com/865/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abiaqila.wordpress.com/865/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abiaqila.wordpress.com/865/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abiaqila.wordpress.com/865/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abiaqila.wordpress.com/865/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abiaqila.wordpress.com/865/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abiaqila.wordpress.com/865/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abiaqila.wordpress.com/865/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abiaqila.wordpress.com/865/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abiaqila.wordpress.com/865/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abiaqila.wordpress.com/865/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abiaqila.wordpress.com/865/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abiaqila.wordpress.com&amp;blog=9437074&amp;post=865&amp;subd=abiaqila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiaqila.wordpress.com/2010/08/23/sering-terucap-luput-dari-renungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5e93d86227409264c4c3490b61448e06?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abi aqila</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://external.ak.fbcdn.net/safe_image.php?d=baf28e93479b20cd826bdb69086ffdf7&#038;url=http%3A%2F%2Frumaysho.com%2Fimages%2Fstories%2Frsz_fire_1.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>12 HADIST Lemah &amp; Palsu seputar Bulan Ramadhan</title>
		<link>http://abiaqila.wordpress.com/2010/07/27/12-hadist-lemah-palsu-seputar-bulan-ramadhan/</link>
		<comments>http://abiaqila.wordpress.com/2010/07/27/12-hadist-lemah-palsu-seputar-bulan-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jul 2010 09:24:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abi aqila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiaqila.wordpress.com/?p=860</guid>
		<description><![CDATA[Islam adalah agama yang ilmiah. Setiap amalan, keyakinan, atau ajaran yang disandarkan kepada Islam harus memiliki dasar dari Al Qur’an dan Hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang otentik. Dengan ini, Islam tidak memberi celah kepada orang-orang yang beritikad buruk untuk menyusupkan pemikiran-pemikiran atau ajaran lain ke dalam ajaran Islam. Karena pentingnya hal ini, tidak heran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abiaqila.wordpress.com&amp;blog=9437074&amp;post=860&amp;subd=abiaqila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="image/jpg;base64,/9j/4AAQSkZJRgABAQAAAQABAAD/2wCEAAkGBhQSERUTEhMVFRUWFyAaGRUYGBkYFxogHBgYHRgXHBgaHCYgGxsjHRUXIi8iJigpLC0sHB40NTAqOCcrLCkBCQoKDgwOGg8PGiskHCAsKSwtLDUpLS0sLCksLCwpKiksKS0pKS0sLC4pLCwpLCksLCwpLCkpLCwtLiwpLCwsKf/AABEIAFYAgQMBIgACEQEDEQH/xAAbAAABBQEBAAAAAAAAAAAAAAAFAAMEBgcBAv/EADwQAAEDAgQCBwUGBgIDAAAAAAECAxEAIQQFEjFBUQYTImFxgZEUMlKhsQcVQmLR8CMzU8Hh8RdyFpKi/8QAGQEAAwEBAQAAAAAAAAAAAAAAAQIDBAAF/8QAJBEAAwACAgICAgMBAAAAAAAAAAECAxESIRMxQVEEImGxwRT/2gAMAwEAAhEDEQA/ANpZbTpT2RsOA5V60J+EegqCxmCCkXvAt5Uw7nbYNlDwJg/Os7zRK7aHUthTQn4R6Cu6E/CPQUBXnV+AHIkU5hM11SZ7qnP5UN6Q3jYb6tPwj0FLq08h6Co7L8ia6t6K0qloTQ/oT8I9BXNCfhHoKhrxo51HXmI50HaR2gnpTyHoKWlPwj0FDE42eNejiVRO47qHNB0EdKfhHoK7oT8I9BQtvMwae9srvIjuJO6tPwj0Fd6tPwj0FRUYiRtSOJ/d67yIGj1jGFEAN6E8yUz6d9MJwbo2U1G10Enbf3t5qQ09Ne1LNHafZwN0J5D0FKm+spVHkhtGHffWIcIIfcAAAsozPHjXH80xgkqcU4OYUZ9Zn60MZfUhoq27/OLinfvZSFQVJgd37+leU479Hoqw9lecPJb1oLq5FxHr2p+m/wBDeEzp3RDSVCD7y1QNgSYBuZNV3DZ+hlCOqhaiO0idpvvtx+VGXMzQ20EqIJInlM8fDhFZHLT9D0016LN0czhZCuscIQ2Ctx0mwHcOZ2AqNivtQSVaWkpSkmAXDqJ71EmE/wBqreOx4GT4hTZknEthf/XSSkHu1CsvxeZybSP3fyr2cU1wSTMNa29mzn7QUOdkwhfBQJCSeRBPZnmPMcQHX04USe0fCTWUOY5SIuLjx3+h+dcbzMzJNVeFv2Kqk1nC9MXNQ7R9TVlyzpmnSSp06rdk7jgbxw9awpvMrTN+X96eTniuf786XxOfQzcs2vGdIUrC1tOHUkwUkwTty4kmxFjHOvGA6ZhQuoztv86xtOdESoKMgcONTsBmhSd9/wBxUbx17CkjecDnJKfe+fyqSnN+sBSk9obiYI8t6x3JukywqZGpSikEmyQmxP73JFFMVn6YKCdaouqTrixsZAAmR5Gs2SrnoZQmai3mlwEyqRMyYodnPSJSAYOpXwg2B5qPAVT8FnTSUdnWbdpRg7DaTag2KzIvEwSEcVE9nnEJABqDyZWtDrHOywf+Qv8A9VHrSqpdj4x+/OlQ419sp+hBzrCaMKoxuUj1UP0prG4Y6EL0g6kg890irNmpQcKU6gCpSdzEgKGqOcd1S85ylAYQWjbSIjtA2FNiytxt/Df+EbTkprOKlKZQnTsYSAJjaYmYiBvQ/N8asEpCiQggpKhe9vPiJ4iKKO5eok7BMXkEDbx76L5fkOHzAMsB9LGMa0pCo7DyAbaQT/NQCQAT2gB5ehiU0xHTQ1gMsfwWHccxpa9nebSHcL1qU4rSVjqnkNnZaVEKAJ2kGqZmOQSpS2XmsQ2bhSVobV4LZWQpBjgARyJFa1n2cZeh5QxzmHViPxqeytzrFQIBP8QA2AuLcqhZs/kyWVJe9mAdYUtpTWAcZUSU9hSHQtQkKEEcwQYg16MpIzNtmMNtfxEpUpIlQBJ7SRJgkxM86LdKujycHjXsMHdYaIAc0xqlKVbSY97eYotljKBkeKU+w2NTzfszxTDqlyOsQlXFtLaSTwlXpY8ZlGWYwHEP4t7rEYRlL/UtFxtpYbbQHFOCyxKQkpH4uNqYUzXBtJVIWrQB+ONvyxxn5b7A0y8ogkREcN/nx8auvTzIsuZwmDdwDynFOBWrVqlYTYultQ/h9tKkxsQO6hfQ7Kfb3EYCG21LUpYxBQpTg0NKPV2VAbJEm1jfuoBGelGQpwhw4S8HQ/hkPSEwBr1SgXMxpiflUV8BsNFD6XCtAUoAKBbMmW1TEkAAyLXq9ZMjKXsNghmWKUlxlpaerbClAp9oWtAWtKTBIKxpsYUDarTlufZVilHCKeaUy8ChphOB6otmOwUuySV233JI50GkHZk+Cxap1BQG8giZ2mN4JgU+rHrkHSCRtMH+16tHSLKcsawbXsb5cxAXocBCkuK97US0oS3BCQOc86f6btNpOHlttp8YdHXNIASEquU6vz6NMjhxrLklLvRWaZVsRmLjnvrEcUgD68a65mSgkJQvsj8oHjXl4kbjf0+QofiGVpOlSbm9wRYiQY8DNSmZYapj/wB4r+If/NKh2s8vmf1pVXxoXky9Z9mjTwS2EOHSqdcxvYgCDI29NqO5HiWyylpUpSmwUTMkmdJtY3328KrjWUlfuwVAAwIO4BFpm4q15d0dLbfWOKTp0mZCQkDiSdhtPjXjZcePgsa+P7NqbdcmQM5wwTYjwEweW1UvE4EyCQRex5cv91omOwaHsQ23rCQQSAVe9p3IP0H1rzjMncQ0oODsntQQJEWFzdO5tt6SKYLqEg3E/RTv+QHkpGHx7LWOZGwenrUj8rye0D4zU7K+kOACdOFxeJwAJnqcQyjGYYHmmQSnx0zVcz/BaSQQQREW4d9BW8tUrb/Ne1jybnbMNR30W3PujuKxygv7yweMgQhIxCGtI5JacCAjwAoQv7OcxSDGGWoHfq1IcB/9FGaj4How64f5LpA96ALepq05Z9nLpHuJAJMHdQE2m0JN++meRfAqxsYyrK3ksJw+OyrEvobJLS0a2nW9RlSdWkhSCbwRYkwb09iMxew7S2sBlqsGHE6XH3FKXiCk7pDiwkIB46R50/mHQbqwAdIJNhzgSY8AJ8KrGL6OqJIQAYttSeZemNwAr2DKbK0g/wDZJ+hNMpUQbVKxGAUglKhTPVGO8fSqKkxXLLXlf2iY4QnrpMQHChsu7f1Sgr85qVgVa3CXkKUomZKu0onmTvfjQXI8nU4QpO4BMbkwNo3J7qtuX5U4+oFSXgUgAaW1QADYe7/isX5GT6K4567ErLmnQB2033BBEmur6OshNtRPMkfK29aNkPR1IZgs6VFR7ajJKZsQn8JjnHhXvHdGUJHCDvafCsNVc/svRTjL6Ml+4UfEfUfpXauf3COY9K5Q89B8aLJ0Y6D9W0Qop7StQSlGnT+TftaSVCYFotYVNzXo2tTS22ktuHTCUuFWiQLBWnYTH+KsgSlKAVKAEce8VzCr7UBJCdwTblsngK2v8eG19k/LRVG+jDoaVqSwytAIRoHW2UG5uoJCYgiwII4cy+MyRtYSXYWsWKiNIlWmUyeBIT2b7JtapiMIdLidU6gdiTBIN/E71CxTPXaEubK7QTeTAmSRsL+dvCpuFK6Xsfm2UzPuiTLrxbU6rWfwpTCbCd51G3fHdUH/AIw1paQy4E/xJMpt2UqB28z4iJG9Xt1r+cvqxqSkEGO0ZRMHwII8hUgZcAhKkpKSFhyCINzCpHPSo10y/g50DVdElIbbQ043KXUlRUgkKgKmQFCCbbcRRFGUlL40qSE9XcaLkhRkpOq0kid+FGRhzHmD6EfpTq8PcHxv4/6FbVjI82Z70ny0KeSpbbrhbGpHVt2AVCFnVqlRAI7NhB2tqoLiuhS1PYhDaCkKalL+4UqFJCI1dkjf17p1HE4VWkwRqNgSLC8Ax8451Bw+WuBSEqKlaCT1lgFAgwCkcQSPSoVFchlXRlCegiFYZp/FupSVJElLZtqiEC+44mDEGIqU/wDY+laCEOQCJBj8pKYM/Fp8prTcRkrakBCpgLUQlO5kqlMciFEVPwmWhAQBbSICeEWt5RXTjvf8HOlozDKPs/W0ElpxKCrSrUsDTqKDICQZXvESnbjtV2wuTkNFJOpSx2l7bggkD8NjZI/zRI4WEJTp1naCQNpvPdXtLCyQVgJA2SDJJi1+4TakWLvsLsHttFtZTqKh1aYEXlJUDtxMp7qhvY+xbQFPOEk6EwUongpzYD50UxuFDhSQFEQpKgkwSOyYnyp1vLrJDYCEDgn9I376DxOul6DyXtlG9ixn9PC+q6VXD2fupUP+dB8hKwi2glBCT7oNxPAcz304nFoVJOqOVuHO9KlW5JED37cgJEAgcgBx864nENyLHlsOA8e812lTaQDntLZUoQbiNhwnv/NXtONREQrYcBx865SrkA9uY5AIPa37v1pxWYpAJ7Vu4frXaVMmAacxSDdQUZ/v5132lIH4vQT9a7SoBPPtbaLwrxgT9acOKQTJB+X60qVHfQBt3Eo3vvOw4+deRi0TJ1E+A/WlSpRhl7NkBQsq0E2HExz766/mCBCu0DI2Av4iaVKk2HRD9sT+b5frSpUq4Oj/2Q==" alt="" width="129" height="86" />Islam adalah agama yang ilmiah. Setiap amalan, keyakinan, atau ajaran  yang disandarkan kepada Islam harus memiliki dasar dari Al Qur’an dan  Hadits Nabi <em>shallallahu’alaihi wa sallam</em> yang otentik. Dengan  ini, Islam tidak memberi celah kepada orang-orang yang beritikad buruk  untuk menyusupkan pemikiran-pemikiran atau ajaran lain ke dalam ajaran  Islam.</p>
<p>Karena pentingnya hal ini, tidak heran apabila Abdullah bin Mubarak <em>rahimahullah</em> mengatakan perkataan yang terkenal:</p>
<p>الإسناد من الدين، ولولا الإسناد؛ لقال من  شاء ما شاء</p>
<p><em>“Sanad adalah bagian dari agama. Jika tidak ada sanad, maka orang  akan berkata semaunya.”</em> (Lihat dalam <em>Muqaddimah Shahih Muslim</em>,  Juz I, halaman 12)</p>
<p>Dengan adanya sanad, suatu perkataan tentang ajaran Islam dapat  ditelusuri asal-muasalnya.</p>
<p>Oleh karena itu, penting sekali bagi umat muslim untuk memilah  hadits-hadits, antara yang shahih dan yang dhaif, agar diketahui amalan  mana yang seharusnya diamalkan karena memang diajarkan oleh Rasulullah <em>shallallahu’alaihi  wa sallam</em> serta amalan mana yang tidak perlu dihiraukan karena  tidak pernah diajarkan oleh beliau.</p>
<p>Berkaitan dengan bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, akan kami  sampaikan beberapa hadits lemah dan palsu mengenai puasa yang banyak  tersebar di masyarakat. Untuk memudahkan pembaca, kami tidak menjelaskan  sisi kelemahan hadits, namun hanya akan menyebutkan kesimpulan para  pakar hadits yang menelitinya. Pembaca yang ingin menelusuri sisi  kelemahan hadits, dapat merujuk pada kitab para ulama yang bersangkutan.<br />
<span id="more-860"></span><br />
<strong>Hadits 1</strong></p>
<p>صوموا تصحوا</p>
<p><em>“Berpuasalah, kalian akan sehat.”</em></p>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di Ath Thibbun Nabawi  sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidz Al Iraqi di <em>Takhrijul Ihya</em> (3/108), oleh Ath Thabrani di <em>Al Ausath</em> (2/225), oleh Ibnu  ‘Adi dalam <em>Al Kamil Fid Dhu’afa</em> (3/227).</p>
<p>Hadits ini dhaif (lemah), sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidz Al  Iraqi di <em>Takhrijul Ihya</em> (3/108), juga Al Albani di <em>Silsilah  Adh Dha’ifah</em> (253). Bahkan Ash Shaghani agak berlebihan mengatakan  hadits ini maudhu (palsu) dalam <em>Maudhu’at Ash Shaghani</em> (51).</p>
<p>Keterangan: jika memang terdapat penelitian ilmiah dari para ahli  medis bahwa puasa itu dapat menyehatkan tubuh, makna dari hadits dhaif  ini benar, namun tetap tidak boleh dianggap sebagai sabda Nabi <em>shallallahu’alaihi  wa sallam</em>.</p>
<p><strong>Hadits 2</strong></p>
<p>نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ  تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ</p>
<p><em>“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah  tasbih, do’anya dikabulkan, dan amalannya pun akan dilipatgandakan  pahalanya.”</em></p>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi di <em>Syu’abul Iman</em> (3/1437).</p>
<p>Hadits ini dhaif, sebagaimana dikatakan Al Hafidz Al Iraqi dalam <em>Takhrijul  Ihya</em> (1/310). Al Albani juga mendhaifkan hadits ini dalam <em>Silsilah  Adh Dha’ifah</em> (4696).</p>
<p>Terdapat juga riwayat yang lain:</p>
<p>الصائم في عبادة و إن كان راقدا على فراشه</p>
<p><em>“Orang yang berpuasa itu senantiasa dalam ibadah meskipun sedang  tidur di atas ranjangnya.”</em></p>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh Tammam (18/172). Hadits ini juga dhaif,  sebagaimana dikatakan oleh Al Albani di <em>Silsilah Adh Dhaifah</em> (653).</p>
<p>Yang benar, tidur adalah perkara mubah (boleh) dan bukan ritual  ibadah. Maka, sebagaimana perkara mubah yang lain, tidur dapat bernilai  ibadah jika diniatkan sebagai sarana penunjang ibadah. Misalnya,  seseorang tidur karena khawatir tergoda untuk berbuka sebelum waktunya,  atau tidur untuk mengistirahatkan tubuh agar kuat dalam beribadah.</p>
<p>Sebaliknya, tidak setiap tidur orang berpuasa itu bernilai ibadah.  Sebagai contoh, tidur karena malas, atau tidur karena kekenyangan  setelah sahur. Keduanya, tentu tidak bernilai ibadah, bahkan bisa  dinilai sebagai tidur yang tercela. Maka, hendaknya seseorang menjadikan  bulan ramadhan sebagai kesempatan baik untuk memperbanyak amal  kebaikan, bukan bermalas-malasan.</p>
<p><strong>Hadits 3</strong></p>
<p>يا أيها الناس قد أظلكم شهر عظيم ، شهر فيه  ليلة خير من ألف شهر ، جعل الله صيامه فريضة ، و قيام ليله تطوعا ، و من  تقرب فيه بخصلة من الخير كان كمن أدى فريضة فيما سواه ، و من أدى فريضة كان  كمن أدى سبعين فريضة فيما سواه ، و هو شهر الصبر و الصبر ثوابه الجنة ، و  شهر المواساة ، و شهر يزاد فيه رزق المؤمن ، و من فطر فيه صائما كان مغفرة  لذنوبه ، و عتق رقبته من النار ، و كان له مثل أجره من غير أن ينتقص من  أجره شيء قالوا : يا رسول الله ليس كلنا يجد ما يفطر الصائم ، قال : يعطي  الله هذا الثواب من فطر صائما على مذقة لبن ، أو تمرة ، أو شربة من ماء ، و  من أشبع صائما سقاه الله من الحوض شربة لايظمأ حتى يدخل الجنة ، و هو شهر  أوله رحمة و وسطه مغفرة و آخره عتق من النار ،</p>
<p><em>“Wahai manusia, bulan yang agung telah mendatangi kalian. Di  dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari 1. 000 bulan. Allah  menjadikan puasa pada siang harinya sebagai sebuah kewajiban, dan  menghidupkan malamnya sebagai ibadah tathawwu’ (sunnah). Barangsiapa  pada bulan itu mendekatkan diri (kepada Allah) dengan satu kebaikan,  ia  seolah-olah mengerjakan satu ibadah wajib pada bulan yang lain.  Barangsiapa mengerjakan satu perbuatan wajib, ia seolah-olah mengerjakan  70 kebaikan di bulan yang lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran,  sedangkan kesabaran itu balasannya adalah surga. Ia (juga) bulan  tolong-menolong. Di dalamnya rezki seorang mukmin ditambah. Barangsiapa  pada bulan Ramadhan memberikan hidangan berbuka kepada seorang yang  berpuasa, dosa-dosanya akan diampuni, diselamatkan dari api neraka dan  memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi  pahala orang yang berpuasa tadi sedikitpun” Kemudian para sahabat  berkata, “Wahai Rasulullah, tidak semua dari kita memiliki makanan untuk  diberikan kepada orang yang berpuasa.” Rasulullah Shallallahu’alaihi  Wasallam berkata, “Allah memberikan pahala tersebut kepada orang yang  memberikan hidangan berbuka berupa sebutir kurma, atau satu teguk air  atau sedikit susu. Ramadhan adalah bulan yang permulaannya rahmat,  pertengahannya maghfirah (ampunan) dan akhirnya pembebasan dari api  neraka.”</em></p>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (1887), oleh Al Mahamili  dalam <em>Amaliyyah</em> (293), Ibnu ‘Adi dalam <em>Al Kamil Fid Dhu’afa</em> (6/512), Al Mundziri dalam <em>Targhib Wat Tarhib</em> (2/115)</p>
<p>Hadits ini didhaifkan oleh para pakar hadits seperti Al Mundziri  dalam <em>At Targhib Wat Tarhib</em> (2/115), juga didhaifkan oleh  Syaikh Ali Hasan Al Halabi di <em>Sifatu Shaumin Nabiy</em> (110),  bahkan dikatakan oleh Abu Hatim Ar Razi dalam <em>Al ‘Ilal</em> (2/50)  juga Al Albani dalam <em>Silsilah Adh Dhaifah</em> (871) bahwa hadits  ini Munkar.</p>
<p>Yang benar, di seluruh waktu di bulan Ramadhan terdapat rahmah,  seluruhnya terdapat ampunan Allah dan seluruhnya terdapat kesempatan  bagi seorang mukmin untuk terbebas dari api neraka, tidak hanya  sepertiganya. Salah satu dalil yang menunjukkan hal ini adalah:</p>
<p>من صام رمضان إيمانا واحتسابا ، غفر له ما  تقدم من ذنبه</p>
<p><em>“Orang yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, akan  diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”</em> (HR. Bukhari no.38,  Muslim, no.760)</p>
<p>Dalam hadits ini, disebutkan bahwa ampunan Allah tidak dibatasi hanya  pada pertengahan Ramadhan saja.</p>
<p>Adapun mengenai apa yang diyakini oleh sebagian orang, bahwa setiap  amalan sunnah kebaikan di bulan Ramadhan diganjar pahala sebagaimana  amalan wajib, dan amalan wajib diganjar dengan 70 kali lipat pahala  ibadah wajib diluar bulan Ramadhan, keyakinan ini tidaklah benar   berdasarkan hadits yang lemah ini. Walaupun keyakinan ini tidak benar,  sesungguhnya Allah ta’ala melipatgandakan pahala amalan kebaikan  berlipat ganda banyaknya, terutama ibadah puasa di bulan Ramadhan.</p>
<p><strong>Hadits 4</strong></p>
<p>كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر  قال : اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت فتقبل مني إنك أنت السميع العليم</p>
<p><em>“Biasanya Rasulullah <em>shallallahu’alaihi wa sallam</em> ketika  berbuka membaca doa: Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu  fataqabbal minni, innaka antas samii’ul ‘aliim.”</em></p>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dalam <em>Sunan</em>-nya  (2358), Adz Dzahabi dalam <em>Al Muhadzab</em> (4/1616), Ibnu Katsir  dalam <em>Irsyadul Faqih</em> (289/1), Ibnul Mulaqqin dalam <em>Badrul  Munir</em> (5/710)</p>
<p>Ibnu Hajar Al Asqalani berkata di <em>Al Futuhat Ar Rabbaniyyah</em> (4/341) : “Hadits ini gharib, dan sanadnya lemah sekali”. Hadits ini  juga didhaifkan oleh Asy Syaukani dalam <em>Nailul Authar</em> (4/301),  juga oleh Al Albani di <em>Dhaif Al Jami’</em> (4350). Dan doa dengan  lafadz yang semisal, semua berkisar antara hadits lemah dan munkar.</p>
<p>Sedangkan doa berbuka puasa yang tersebar dimasyarakat dengan lafadz:</p>
<p>اللهم لك صمت و بك امنت و على رزقك افطرت  برحمتك يا ارحم الراحمين</p>
<p><em>“Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, atas  rezeki-Mu aku berbuka, aku memohon Rahmat-Mu wahai Dzat yang Maha  Penyayang.”</em></p>
<p>Hadits ini tidak terdapat di kitab hadits manapun. Atau dengan kata  lain, ini adalah hadits palsu. Sebagaimana dikatakan oleh Al Mulla Ali  Al Qaari dalam kitab <em>Mirqatul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih</em>:  “Adapun doa yang tersebar di masyarakat dengan tambahan <em>‘wabika  aamantu’</em> sama sekali tidak ada asalnya, walau secara makna memang  benar.”</p>
<p>Yang benar, doa berbuka puasa yang dicontohkan oleh Rasulullah <em>shallallahu’alaihi  wa sallam</em> terdapat dalam hadits:</p>
<p>كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر  قال ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله</p>
<p><em>“Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika berbuka  puasa membaca doa:</em></p>
<p>ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء  الله</p>
<p><strong><em>/Dzahabaz zhamaa-u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru  insyaa Allah/</em></strong></p>
<p>(‘Rasa haus telah hilang, kerongkongan telah basah, semoga pahala  didapatkan. Insya Allah’)”</p>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud (2357), Ad Daruquthni (2/401),  dan dihasankan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di <em>Hidayatur Ruwah</em>,  2/232 juga oleh Al Albani di <em>Shahih Sunan Abi Daud</em>.</p>
<p><strong>Hadits 5</strong></p>
<p>من أفطر يوما من رمضان من غير رخصة لم يقضه  وإن صام الدهر كله</p>
<p><em>“Orang yang sengaja tidak berpuasa pada suatu hari  di bulan  Ramadhan, padahal ia bukan orang yang diberi keringanan, ia tidak akan  dapat mengganti puasanya meski berpuasa terus menerus.”</em></p>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari di <em>Al’Ilal Al Kabir</em> (116), oleh Abu Daud di Sunannya (2396), oleh Tirmidzi di <em>Sunan</em>-nya  (723), Imam Ahmad di <em>Al Mughni</em> (4/367), Ad Daruquthni di <em>Sunan-</em>nya  (2/441, 2/413), dan Al Baihaqi di <em>Sunan</em>-nya (4/228).</p>
<p>Hadits ini didhaifkan oleh Al Bukhari, Imam Ahmad, Ibnu Hazm di <em>Al  Muhalla</em> (6/183), Al Baihaqi, Ibnu Abdil Barr dalam <em>At Tamhid</em> (7/173), juga oleh Al Albani di <em>Dhaif At Tirmidzi</em> (723), <em>Dhaif  Abi Daud</em> (2396), <em>Dhaif Al Jami’</em> (5462) dan <em>Silsilah  Adh Dha’ifah</em> (4557). Namun, memang sebagian ulama ada yang  menshahihkan hadits ini seperti Abu Hatim Ar Razi di <em>Al Ilal</em> (2/17), juga ada yang menghasankan seperti Ibnu Hajar Al Asqalani di <em>Hidayatur  Ruwah</em> (2/329) dan Al Haitsami di <em>Majma’ Az Zawaid</em> (3/171). Oleh karena itu, ulama berbeda pendapat mengenai ada-tidaknya  qadha bagi orang yang sengaja tidak berpuasa.</p>
<p>Yang benar -wal ‘ilmu ‘indallah- adalah penjelasan Lajnah Daimah Lil  Buhuts Wal Ifta (Komisi Fatwa Saudi Arabia), yang menyatakan bahwa  “Seseorang yang sengaja tidak berpuasa tanpa udzur syar’i,ia harus  bertaubat kepada Allah dan mengganti puasa yang telah ditinggalkannya.”  (Periksa: Fatawa Lajnah Daimah no. 16480, 9/191)</p>
<p><strong>Hadits 6</strong></p>
<p>لا تقولوا رمضان فإن رمضان اسم من أسماء  الله تعالى ولكن قولوا شهر رمضان</p>
<p><em>“Jangan menyebut dengan ‘Ramadhan’ karena ia adalah salah satu  nama Allah, namun sebutlah dengan ‘Bulan Ramadhan.’”</em></p>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam <em>Sunan</em>-nya  (4/201), Adz Dzaahabi dalam <em>Mizanul I’tidal</em> (4/247), Ibnu ‘Adi  dalam <em>Al Kamil Fid Dhu’afa</em> (8/313), Ibnu Katsir di <em>Tafsir</em>-nya  (1/310).</p>
<p>Ibnul Jauzi dalam Al Maudhuat (2/545) mengatakan hadits ini palsu.  Namun, yang benar adalah sebagaimana yang dikatakan oleh As Suyuthi  dalam <em>An Nukat ‘alal Maudhuat</em> (41) bahwa “Hadits ini dhaif,  bukan palsu”. Hadits ini juga didhaifkan oleh Ibnu ‘Adi dalam <em>Al  Kamil Fid Dhu’afa</em> (8/313), An Nawawi dalam <em>Al Adzkar</em> (475), oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam <em>Fathul Baari</em> (4/135)  dan Al Albani dalam <em>Silsilah Adh Dhaifah</em> (6768).</p>
<p>Yang benar adalah boleh mengatakan ‘Ramadhan’ saja, sebagaimana  pendapat jumhur ulama karena banyak hadits yang menyebutkan ‘Ramadhan’  tanpa ‘Syahru (bulan)’.</p>
<p><strong>Hadits 7</strong></p>
<p>أن شهر رمضان متعلق بين السماء والأرض لا  يرفع إلا بزكاة الفطر</p>
<p><em>“Bulan Ramadhan bergantung di antara langit dan bumi. Tidak ada  yang dapat mengangkatnya kecuali zakat fithri.”</em></p>
<p>Hadits ini disebutkan oleh Al Mundziri di <em>At Targhib Wat Tarhi</em>b  (2/157). Al Albani mendhaifkan hadits ini dalam <em>Dhaif At Targhib</em> (664), dan <em>Silsilah Ahadits Dhaifah</em> (43).</p>
<p>Yang benar, jika dari hadits ini terdapat orang yang meyakini bahwa  puasa Ramadhan tidak diterima jika belum membayar zakat fithri,  keyakinan ini salah, karena haditsnya dhaif. Zakat fithri bukanlah  syarat sah puasa Ramadhan, namun jika seseorang meninggalkannya ia  mendapat dosa tersendiri.</p>
<p><strong>Hadits 8</strong></p>
<p>رجب شهر الله ، وشعبان شهري ، ورمضان شهر  أمتي</p>
<p><em>“Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan  adalah bulan umatku.”</em></p>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh Adz Dzahabi di <em>Tartibul Maudhu’at</em> (162, 183), Ibnu Asakir di <em>Mu’jam Asy Syuyukh</em> (1/186).</p>
<p>Hadits ini didhaifkan oleh di Asy Syaukani di <em>Nailul Authar</em> (4/334),  dan Al Albani di <em>Silsilah Adh Dhaifah</em> (4400). Bahkan  hadits ini dikatakan hadits palsu oleh banyak ulama seperti Adz Dzahabi  di <em>Tartibul Maudhu’at</em> (162, 183), Ash Shaghani dalam <em>Al  Maudhu’at</em> (72), Ibnul Qayyim dalam <em>Al Manaarul Munif</em> (76),  Ibnu Hajar Al Asqalani dalam <em>Tabyinul Ujab</em> (20).</p>
<p><strong>Hadits 9</strong></p>
<p>من فطر صائما على طعام وشراب من حلال صلت  عليه الملائكة في ساعات شهر رمضان وصلى عليه جبرائيل ليلة القدر</p>
<p><em>“Barangsiapa memberi hidangan berbuka puasa dengan makanan dan  minuman yang halal, para malaikat bershalawat kepadanya selama bulan  Ramadhan dan Jibril bershalawat kepadanya di malam lailatul qadar.”</em></p>
<p>Hadist ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam <em>Al Majruhin</em> (1/300), Al Baihaqi di <em>Syu’abul Iman</em> (3/1441), Ibnu ‘Adi dalam <em>Al  Kamil Adh Dhuafa</em> (3/318), Al Mundziri dalam <em>At Targhib Wat  Tarhib</em> (1/152)</p>
<p>Hadits ini didhaifkan oleh Ibnul Jauzi di <em>Al Maudhuat</em> (2/555), As Sakhawi dalam <em>Maqasidul Hasanah</em> (495), Al Albani  dalam <em>Dhaif At Targhib</em> (654)</p>
<p>Yang benar,orang yang memberikan hidangan berbuka puasa akan  mendapatkan pahala puasa orang yang diberi hidangan tadi, berdasarkan  hadits:</p>
<p>من فطر صائما كان له مثل أجره ، غير أنه لا  ينقص من أجر الصائم شيئا</p>
<p><em>“Siapa saja yang memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang  lain yang berpuasa, ia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa  sedikitpun mengurangi pahalanya.”</em> (HR. At Tirmidzi no 807, ia  berkata: “Hasan shahih”)</p>
<p><strong>Hadits 10</strong></p>
<p>رجعنا من الجهاد الأصغر إلى الجهاد الأكبر .  قالوا : وما الجهاد الأكبر ؟ قال : جهاد القلب</p>
<p><em>“Kita telah kembali dari jihad yang kecil menuju jihad yang  besar.” Para sahabat bertanya: “Apakah jihad yang besar itu?” Beliau  bersabda: “Jihadnya hati melawan hawa nafsu.”</em></p>
<p>Menurut Al Hafidz Al Iraqi dalam <em>Takhrijul Ihya</em> (2/6) hadits  ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam <em>Az Zuhd</em>. Ibnu Hajar Al  Asqalani dalam <em>Takhrijul Kasyaf</em> (4/114) juga mengatakan hadits  ini diriwayatkan oleh An Nasa’i dalam <em>Al Kuna</em>.</p>
<p>Hadits ini adalah hadits palsu. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul  Islam di <em>Majmu Fatawa</em> (11/197), juga oleh Al Mulla Ali Al Qari  dalam <em>Al Asrar Al Marfu’ah</em> (211). Al Albani dalam <em>Silsilah  Adh Dhaifah</em> (2460) mengatakan hadits ini Munkar.</p>
<p>Hadits ini sering dibawakan para khatib dan dikaitkan dengan <a title="hadits lemah dan palsu" href="http://muslim.or.id/hadits/12-hadits-lemah-dan-palsu-seputar-ramadhan.html">Ramadhan</a>,  yaitu untuk mengatakan bahwa jihad melawan hawa nafsu di bulan Ramadhan  lebih utama dari jihad berperang di jalan Allah. Syaikhul Islam Ibnu  Taimiyyah berkata, “Hadits ini tidak ada asalnya. Tidak ada seorang pun  ulama hadits yang berangapan seperti ini, baik dari perkataan maupun  perbuatan Nabi. Selain itu jihad melawan orang kafir adalah amal yang  paling mulia. Bahkan jihad yang tidak wajib pun merupakan amalan sunnah  yang paling dianjurkan.” (<em>Majmu’ Fatawa</em>, 11/197). Artinya,  makna dari hadits palsu ini pun tidak benar karena jihad berperang di  jalan Allah adalah amalan yang paling mulia. Selain itu, orang yang  terjun berperang di jalan Allah tentunya telah berhasil mengalahkan hawa  nafsunya untuk meninggalkan dunia dan orang-orang yang ia sayangi.</p>
<p><strong>Hadits 11</strong></p>
<p>قال وائلة : لقيت رسول الله صلى الله عليه  وسلم يوم عيد فقلت : تقبل الله منا ومنك ، قال : نعم تقبل الله منا ومنك</p>
<p><em>“Wa’ilah berkata, “Aku bertemu dengan Rasulullah  Shallallahu’alaihi Wasallam pada hari Ied, lalu aku berkata:  Taqabbalallahu minna wa minka.” Beliau bersabda: “Ya, Taqabbalallahu  minna wa minka.”</em></p>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam <em>Al Majruhin</em> (2/319), Al Baihaqi dalam <em>Sunan-</em>nya (3/319), Adz Dzahabi dalam <em>Al  Muhadzab</em> (3/1246)</p>
<p>Hadits ini didhaifkan oleh Ibnu ‘Adi dalam <em>Al Kamil Fid Dhuafa</em> (7/524), oleh Ibnu Qaisirani dalam <em>Dzakiratul Huffadz</em> (4/1950), oleh Al Albani dalam <em>Silsilah Adh Dhaifah</em> (5666).</p>
<p>Yang benar, ucapan <em>‘Taqabbalallahu Minna Wa Minka’</em> diucapkan  sebagian sahabat berdasarkan sebuah riwayat:</p>
<p>كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم  إذا التقوا يوم العيد يقول بعضهم لبعض : تقبل الله منا ومنك</p>
<p>Artinya:<br />
<em>“Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya  ketika saling berjumpa di hari Ied mereka mengucapkan: Taqabbalallahu  Minna Wa Minka (Semoga Allah menerima amal ibadah saya dan amal ibadah  Anda)”</em></p>
<p>Atsar ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam <em>Al Mughni</em> (3/294), dishahihkan oleh Al Albani dalam <em>Tamamul Minnah</em> (354).  Oleh karena itu, boleh mengamalkan ucapan ini, asalkan tidak diyakini  sebagai hadits Nabi <em>shallallahu’alaihi wa sallam</em>.</p>
<p><strong>Hadits 12</strong></p>
<p>خمس تفطر الصائم ، وتنقض الوضوء : الكذب ،  والغيبة ، والنميمة ، والنظر بالشهوة ، واليمين الفاجرة</p>
<p><em>“Lima hal yang membatalkan puasa dan membatalkan wudhu:  berbohong, ghibah, namimah, melihat lawan jenis dengan syahwat, dan  bersumpah palsu.”</em></p>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh Al Jauraqani di <em>Al Abathil</em> (1/351), oleh Ibnul Jauzi di <em>Al Maudhu’at</em> (1131)</p>
<p>Hadits ini adalah hadits palsu, sebagaimana dijelaskan Ibnul Jauzi di  <em>Al Maudhu’at</em> (1131), Al Albani dalam <em>Silsilah Adh Dhaifah</em> (1708).</p>
<p>Yang benar, lima hal tersebut bukanlah pembatal puasa, namun pembatal  pahala puasa. Sebagaimana hadits:</p>
<p>من لم يدع قول الزور والعمل به والجهل ،  فليس لله حاجة أن يدع طعامه وشرابه</p>
<p>“Orang yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya,  serta mengganggu orang lain, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya.”  (HR. Bukhari, no.6057)</p>
<p>Demikian, semoga Allah memberi kita taufiq untuk senantiasa berpegang  teguh pada ajaran Islam yang sahih. Mudah-mudahan Allah melimpahkan  rahmat dan ampunannya kepada kita di bulan mulia ini. Semoga amal-ibadah  di bulan suci ini kita berbuah pahala di sisi Rabbuna <em>Jalla  Sya’nuhu</em>.</p>
<p>وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم</p>
<p>***</p>
<p>Disusun oleh: Yulian Purnama<br />
Muraja’ah: Ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar<br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id/ramadhan/12-hadits-lemah-dan-palsu-seputar-ramadhan.html" target="_blank">www.muslim.or.id</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abiaqila.wordpress.com/860/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abiaqila.wordpress.com/860/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abiaqila.wordpress.com/860/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abiaqila.wordpress.com/860/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abiaqila.wordpress.com/860/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abiaqila.wordpress.com/860/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abiaqila.wordpress.com/860/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abiaqila.wordpress.com/860/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abiaqila.wordpress.com/860/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abiaqila.wordpress.com/860/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abiaqila.wordpress.com/860/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abiaqila.wordpress.com/860/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abiaqila.wordpress.com/860/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abiaqila.wordpress.com/860/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abiaqila.wordpress.com&amp;blog=9437074&amp;post=860&amp;subd=abiaqila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiaqila.wordpress.com/2010/07/27/12-hadist-lemah-palsu-seputar-bulan-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5e93d86227409264c4c3490b61448e06?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abi aqila</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ILMU Bukan sekedar TEORI</title>
		<link>http://abiaqila.wordpress.com/2010/07/16/ilmu-bukan-sekedar-teori/</link>
		<comments>http://abiaqila.wordpress.com/2010/07/16/ilmu-bukan-sekedar-teori/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jul 2010 13:20:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abi aqila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiaqila.wordpress.com/?p=857</guid>
		<description><![CDATA[Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Tidaklah sampai kepadaku suatu hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan aku pasti beramal dengannya.” Amr bin Qais al-Mala’i rahimahullah berkata, “Apabila sampai kepadamu hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beramallah dengannya meskipun hanya sekali agar kamu termasuk penganutnya.” Syaikh Abdurrazzaq berkata, “Maksud ucapan beliau; beramallah dengannya meskipun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abiaqila.wordpress.com&amp;blog=9437074&amp;post=857&amp;subd=abiaqila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="image/jpg;base64,/9j/4AAQSkZJRgABAQAAAQABAAD/2wCEAAkGBhIRERQTExQVFRQUGRwVGBgYGBgdHhwYHBgdFRwZGB8ZHCgeHBwjGRwbIC8hIygpLTgxKR89NTItNScrLCkBCQoKDQwOFA8PFCkgFhwpKSkpKSksKS0pKSwpLCkpKSkpLCkpKSkpKSksKSksKSkpKSksKSwpKSkpMiwpKSwsLP/AABEIAIQAYwMBIgACEQEDEQH/xAAcAAACAgMBAQAAAAAAAAAAAAAABQQGAgMHAQj/xAA8EAACAQIEAwUEBgoDAQAAAAABAgMAEQQSITEFQVEGEyJhgTJxkbEHFEJSofAjJDNTYnKSwdHhCBWzov/EABUBAQEAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAB/8QAGREBAAMBAQAAAAAAAAAAAAAAAAERIQIx/9oADAMBAAIRAxEAPwDuFFFFAUUUUGLuALnaq1i+1ju5jwsTTMu+W1hfUZmYhBcagEi42vWztTiXYx4eM2eZst97C12Nudlubc8rDnUDtN2wwnBIY4sjO7AlI13bXxO7nS5O5NyTQbTieKjxdwh/hWVSfgwC/wD1UjhPbJHk7iYGKb7jgqfgd9ibjztcAmqMv/IaLTNgpANNpUJ18io+dWn6zheOYPvsP+1iN0v4XjkADZCRsG01BP2WGqiwXWiknZHihnw6ljdhoTa1+YNuVxZrcr25U7oCiiigKKKKAooooCiiigq/EXy8Tw19mDAe/LIfkyj1Fc1+ntr4yAdIb/F3/wAV0rtvwd5EWaPNnh8Qy76eK630uCAelwl9FIKPEvgOLrAMTCjTq6gAhgHF/FkO5WxJMbHMutxbxEPn2RNB6fIV3P8A4+i2BnJ/ffKJKyxv0c8MaXGj6rGojSLLlLLlLZyzCzaaBfhTHDjDRQjAcOUd0dJZBchrjKQG3dmAylxoBcA5rAQOuw6/o2YbO2ce5lS34C3pVmqHwvBd1GF589t9+Wm9zpzJqZVBRRRQFFFFAh7Y9soOGQGaY3Y6JGD4nboOg2ux0HvsDw7g30szy8VhxOLmkXDqxBjiJCKGUqLr9pQSCSbsbachVp+lT6NMbiJJ8b3omRLFIAGzCMDW3I5Tc2G+p30PHMDwp5ZQkQFmIuToqAkLmc7KgJGp0oPsaGZXUMpDKwDKQbgg6ggjcEVnVI+jyBcBh/qLytJNFeSx2yMdO7H2UDXFjre/uE/jXadItGJJOyLqfX/foKCwy4xF3Pw1pFjYog4ljQhwb72U+RsCQN9qQHiGLl1VVhTqdT+Og/ChMI7e1O7e65H4Airg3YbFTtPijJCqpPkAZZbkKildB3Y1Op1tuKfcGGFhHhuG+83w5aCqwuBuTaZxlNj4WFjvrdfOiSDEgXjkSS3I/wCrkfhUwdERwRcEEeVZVzDDdtGgkCYhGgY7ONUPwv8A39KvXDOOrIBcjxahgbqfcfyKBrRRRQFFFFAVXJOyeGgWc4eOOJ8RcvdcytcEEMpNsup8IsN+tWJmtrVV7XceMCKqftpzkjHPzb0uPUjzoKrwzhYwLSQYZ2mxMtu+mf7KroqKBcKFGlteQ5eFng+HBb5fE/2pW1Av89uvqa3cK4ZlAjW5J1lcXvc8uvP0G+5NWCPCBVygAXFj02ttegQ8NxOGcRZpMzyg5QQ2pFhmQZRZdQQdBqKl9pJ3hwzNFlVi0a5iVUIGkVGcllKqADe5BA3IIFisg7KGERuzQqIX7y6LIMiDu/0cOaQ5VfIcwa/tNbzexzrLm8atYaqjA23XXKddQddvKgqvBuPPJIP0guZYV7ohCZA8YEktwASAFLAoAtgbjWwtmLwMVizWUKCS18tudyeQHWkfZTvJHnaRcpErgMAFIIKqRub+FRcWsPPk5xiiaKWBsjF0dLZiA2mUg5fEtiQCR6dBAmxeEWZPszwEA94pB1Jt4SLhwCOflroarU+Hm4X+mgLT4Q6yRE6oObIT0539bjxLf+C4J44QkhzMGYjxs+VS5ZUzuAz5VIXMRfStGOwuTxDVT7Y0181G1xRU7s32gjxEaMjZkcXRvwynoQdLcjT6uO4Yf9TjlUH9RxrWHSKY7EdFbT0/krrWCnzLruNDVRIooooNOIbYda5nhsR9b4nisSbNFhP1aIfxj2z/AFEj3N5V0PiuL7qOST92jP8A0qX/ALVz/wCjnBEcPhJ9qZ3mc2ve7nU+gWkqccR4PfDNYuHYozNEC7MA6sboGXNtbmbXt0rRwFcR3sZlSVHs/eglzFkyr3SpmJUsD0JYESZjqL2VsQii7MqgaEkgC515nnvXpNEYS7r778+Q8qXvgVw4llQM7lWNja7HVwLgXJvYC97DbnebiQxXw2zDUX6+hHLzpRw7hgjLSBsxIYFQoXUnPa2awt93SxLH7WgIvo540ZWxK5Ut3rPmRbC5Y3U6npcDcDflVujwqxkkfbkL8hq2hAsPeffckkmq52DnSeDEOt7PisSd9fFISNjocpGxpvwbh7R3XvM6A3v4rlrAc2IOmp21A03qQHI1qlcC4tiJGjSSfNIXaMoUjGaHunb6wQFzftAFuDl5WJq5is6oqnaHs8MThZsKbk2zRlt77r7vFpy0Jqf9HPHDicJC7Hx27qT+dNCT5nQ+tMZ1tIh63Xfyv86rfYpDDicdFsqzCVR0z3Jt8FqK6LRRRVQg7YgnBYy2/cS/+Rqu9iBm4fgSGI/RDUZb7AfaBq48UwokDodpEKH3EFT+Brnf0ZY0/wDXpG3t4WR4HHMWc/2ZRSVTeMdn8VIswIWS8vfRFGQHOUkjBkEqFSqqYhl6Aka6G2Jewva9he217a28r1hJOFF2IUXC6nmxCgX6kkAVhDjY3Z0R0ZozZ1VgSpPJgDcHQ7+dEb6XcYwjvFIIjllKkI17eIjS599tSDamNK+I8bWF8pjlbS91W469b8qscz1kF0q/0cYVmid/EIWdsqlvtrI4dvaJ3Ci99SrHnc3tBYWqocAx8GDw6womJZVLkFoxcl3Mh2sN2NvIfG4IKTxPHpcSzApJ2shlZI+6eVDmcMYwxspgl1KpZmswWwBGp62p5avbVAj4U8hjhzKB4iLkyZiA7WYiQlwGUBrMxIv5Vo4Un67ij1CfGw/xTeV7yAfdBb+1j8aXdnVzvNJ+8ksPcNvwIqKuK7CivaKqI+NXw36fKuVSH6jxaaNtIOIr3ydBMNJFHmfa/orrhF6p3bvsr9dw5jByTRHvYJNirjbXkDsfQ8hQLcZhsRiI0WKWOGSF84BQuGYKwVmsRb2g40OoXfSp3A+CSxSBpMmWNJI1Kk3cSTCbM4KjKRYC121LG/VB2a448q2cFMTF4JY/ZJsbG3TXbpt901bZOJKYXfOUspJZVzFANM2Wx1G9rH1sakBhatM2GRtXVTbS5A26XPKqr2f4zO+JiWSXOkiPZBluArS5ZXtCA6MqoA6MouR4fFVn4ljIYkvOyKhOXxkAEm+mvlc+6/SrY9+oRE3yISLchy0HwsPhUoCoOCxOHMkkcTR94p/SKpFwbn2gPO/rUbjXEpI5YEjaPNI2qMNWUMoYhswCKqsdbEligAN7UsedrMK0uHyLEZczAEAKcoswMgV3VWYcgTa5B1y1A4fgnhnMhjkGUS95IWUmRGZe5Ht3Yog5gWIIF82srstxmSaJ++KmRCM2TJl1jWTwlHYMPFvccvInfiJxJqf2S87Wzfw/y9fzaCPjMYREz65pdF65eWlt7XPwpt2dwORVX7ouf5j/AL+VKcMpnk71h4V0QdT1/Pl0q24PD5FtzOpqjfRRRQFasRAGHmNjW2igo/aTssZH72I93iFG/Jx0b00v00Pkmw3GSWMU6mGXZujeTdQRpve3NhXTZoA41+POkfFuzyyizoHA2I3Hu5j5UqxGi4q32wbc2XUbfEa9ajceBxOHaKKRF7wMjFiwspBFwUN76g5ToRcGwN6Wt2fliN4Zjb7r8vUf4FaZGxQPiiD+YYH5kmmhjwbBmNlkZ4+7RJe6AvmInlXEHvL6ArlC2W99TptTLETxOQe7WRkIKtkDZdjcMR4TpuPLpVbjknG0B02uRb8akpHiZNHZUHx/Pxpokl0S4bLlLM4jQAC7G5zEe0c19vjpWSxtOQW8MY2Xb8j8jrUrh/Aedi5+8235+NWHCcOCanVvwHupQ1cN4flAJFreyOlMaKKAooooCiiigKKKKDXLh1b2lBqM3BojyI9xNFFBiOCR/wAXxrdFw6NdlHrr86KKCTRRRQFFFFAUUUUH/9k=" alt="" width="99" height="132" />Sufyan ats-Tsauri <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Tidaklah sampai  kepadaku suatu hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  melainkan aku pasti beramal dengannya.” </em></p>
<p>Amr bin Qais al-Mala’i <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Apabila  sampai kepadamu hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  maka beramallah dengannya meskipun hanya sekali agar kamu termasuk  penganutnya.”</em> Syaikh Abdurrazzaq berkata, <em>“Maksud ucapan  beliau; beramallah dengannya meskipun hanya sekali, adalah dalam perkara  sunnah dan amalan yang dianjurkan sedangkan dalam perkara wajib maka  tidak cukup mengamalkannya sekali kemudian bisa disebut sebagai  penganutnya.”</em> (lihat <em>Tsamrat al-’Ilmi al-’Amal </em>karya  Syaikh Dr. Abdurrazzaq al-Badr, hal. 27)<br />
<span id="more-857"></span><br />
<strong>Jangan tertipu dengan  amalmu!</strong></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan ingatlah  tatkala Ibrahim membangun pondasi Ka’bah dan juga Isma’il, mereka berdua  berdoa; ‘Wahai Rabb kami terimalah amal kami’.”</em> (<strong>QS.  al-Baqarah: 127</strong>). Wuhaib bin al-Ward <em>rahimahullah</em> ketika membaca ayat ini maka ia pun menangis dan berkata, <em>“Wahai  kekasih ar-Rahman! Engkau bersusah payah mendirikan pondasi rumah  ar-Rahman, meskipun demikian engkau merasa khawatir amalmu tidak  diterima!”</em> (lihat <em>Tsamrat al-’Ilmi al-’Amal</em>, hal. 17)</p>
<p><strong>Jadilah contoh yang  baik!</strong></p>
<p>Malik bin Dinar <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya  seorang alim/ahli ilmu apabila tidak mengamalkan ilmunya maka nasehatnya  akan luntur dari hati sebagaimana aliran air hujan yang melintasi  bongkahan batu.” </em>al-Ma’mun pernah berkata, <em>“Kami lebih  membutuhkan nasehat dengan perbuatan daripada nasehat dengan ucapan.” </em>Syaikh  Abdurrazzaq menceritakan: Suatu saat aku mengunjungi salah seorang  bapak yang rajin beribadah di suatu masjid yang dia biasa sholat di  sana. Beliau adalah orang yang sangat rajin beribadah. Ketika itu dia  sedang duduk di masjid -menunggu tibanya waktu sholat setelah sholat  sebelumnya- maka akupun mengucapkan salam kepadanya dan  berbincang-bincang dengannya. Aku pun berkata kepadanya, <em>“Masya  Allah, di daerah kalian ini banyak terdapat para penuntut ilmu.”</em> Dia berkata, <em>“Daerah kami ini!”</em>. Kukatakan, <em>“Iya benar, di  daerah kalian ini masya Allah banyak penuntut ilmu.” </em>Dia berkata, <em>“Daerah  kami ini!”</em>. Dia mengulangi perkataannya kepadaku dengan nada  mengingkari. <em>“Daerah kami ini?!”</em>. Kukatakan, <em>“Iya, benar.”</em> Maka dia berkata, <em>“Wahai puteraku! Orang yang tidak menjaga sholat  berjama’ah tidak layak disebut sebagai seorang penuntut ilmu.”</em> (lihat <em>Tsamrat al-’Ilmi al-’Amal</em>, hal. 36-37). Alangkah benar  perkataan bapak tua tersebut, Ibnu Umar mengatakan, <em>“Dahulu kami  -para sahabat- apabila tidak menjumpai seseorang pada jama’ah sholat  subuh dan isyak maka kami pun menaruh prasangka buruk kepadanya  -jangan-jangan dia munafik, pent-.”</em> (<strong>HR. Thabrani</strong> dalam <em>al-Mu’jam al-Kabir</em> dll, lihat <em>Tsamrat al-’Ilmi  al-’Amal</em>, hal. 37).</p>
<p><strong>Bukankah tolabul ilmi  amalan yang utama?</strong></p>
<p>Abdullah bin al-Mu’taz <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Ilmu  seorang munafik itu terletak pada ucapannya, sedangkan ilmunya seorang  mukmin terletak pada amalnya.” </em>Sufyan <em>rahimahullah</em> pernah  ditanya, <em>“Menuntut ilmu yang lebih kau sukai ataukah beramal?”</em>.  Maka beliau menjawab, <em>“Sesungguhnya ilmu itu dimaksudkan untuk  beramal, maka jangan kau tinggalkan menuntut ilmu dengan alasan beramal,  dan jangan kau tinggalkan amal dengan alasan menuntut ilmu.”</em> (lihat <em>Tsamrat al-’Ilmi al-’Amal</em>, hal. 44-45).</p>
<p><em>Ya Allah, jadikanlah ilmu kami hujjah untuk membela kami, bukan  hujjah yang menjatuhkan kami….</em></p>
<p>Penulis: <a href="http://abumushlih.com/">Abu Mushlih Ari Wahyudi</a><br />
Sumber :<a href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/ilmu-bukan-sekedar-teori.html/comment-page-1#comment-56955" target="_blank"> http://muslim.or.id/</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abiaqila.wordpress.com/857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abiaqila.wordpress.com/857/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abiaqila.wordpress.com/857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abiaqila.wordpress.com/857/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abiaqila.wordpress.com/857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abiaqila.wordpress.com/857/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abiaqila.wordpress.com/857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abiaqila.wordpress.com/857/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abiaqila.wordpress.com/857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abiaqila.wordpress.com/857/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abiaqila.wordpress.com/857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abiaqila.wordpress.com/857/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abiaqila.wordpress.com/857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abiaqila.wordpress.com/857/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abiaqila.wordpress.com&amp;blog=9437074&amp;post=857&amp;subd=abiaqila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiaqila.wordpress.com/2010/07/16/ilmu-bukan-sekedar-teori/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5e93d86227409264c4c3490b61448e06?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abi aqila</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Nyata Seorang Pemuda Arab Yang Menimba Ilmu Di Amerika</title>
		<link>http://abiaqila.wordpress.com/2010/06/21/kisah-nyata-seorang-pemuda-arab-yang-menimba-ilmu-di-amerika/</link>
		<comments>http://abiaqila.wordpress.com/2010/06/21/kisah-nyata-seorang-pemuda-arab-yang-menimba-ilmu-di-amerika/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jun 2010 03:06:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abi aqila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiaqila.wordpress.com/?p=847</guid>
		<description><![CDATA[Ada seorang pemuda arab yang baru saja me-nyelesaikan bangku kuliahnya di Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh Allah berupa pendidikan agama Islam bahkan ia mampu mendalaminya. Selain belajar, ia juga seorang juru dakwah Islam. Ketika berada di Amerika, ia berke-nalan dengan salah seorang Nasrani. Hubungan mere-ka semakin akrab, dengan harapan semoga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abiaqila.wordpress.com&amp;blog=9437074&amp;post=847&amp;subd=abiaqila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:HXYlGLwl61xuFM:http://www.babble.com/CS/blogs/strollerderby/american-flag-2a.jpg" alt="" width="137" height="103" />Ada seorang pemuda arab yang baru saja me-nyelesaikan bangku kuliahnya di Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh Allah berupa pendidikan agama Islam bahkan ia mampu mendalaminya. Selain belajar, ia juga seorang juru dakwah Islam. Ketika berada di Amerika, ia berke-nalan dengan salah seorang Nasrani. Hubungan mere-ka semakin akrab, dengan harapan semoga Allah SWT memberinya hidayah masuk Islam.</p>
<p>Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan di sebuah perkampungan di Amerika dan melintas di dekat sebuah gereja yang terdapat di kampung tersebut. Temannya itu meminta agar ia turut masuk ke dalam gereja. Semula ia berkeberatan. Namun karena ia terus mendesak akhirnya pemuda itupun memenuhi permintaannya lalu ikut masuk ke dalam gereja dan duduk di salah satu bangku dengan hening, sebagaimana kebiasaan mereka. Ketika pendeta masuk, mereka serentak berdiri untuk memberikan penghor-matan lantas kembali duduk.<br />
<span id="more-847"></span><br />
Di saat itu si pendeta agak terbelalak ketika meli-hat kepada para hadirin dan berkata, &#8220;Di tengah kita ada seorang muslim. Aku harap ia keluar dari sini.&#8221; Pemuda arab itu tidak bergeming dari tempatnya. Pendeta tersebut mengucapkan perkataan itu berkali-kali, namun ia tetap tidak bergeming dari tempatnya. Hingga akhirnya pendeta itu berkata, &#8220;Aku minta ia keluar dari sini dan aku menjamin keselamatannya.&#8221; Barulah pemuda ini beranjak keluar.<br />
Di ambang pintu ia bertanya kepada sang pen-deta, &#8220;Bagaimana anda tahu bahwa saya seorang mus-lim.&#8221; Pendeta itu menjawab, &#8220;Dari tanda yang terdapat di wajahmu.&#8221; Kemudian ia beranjak hendak keluar. Namun sang pendeta ingin memanfaatkan keberadaan pemuda ini, yaitu dengan mengajukan beberapa per-tanyaan, tujuannya untuk memojokkan pemuda terse-but dan sekaligus mengokohkan markasnya. Pemuda muslim itupun menerima tantangan debat tersebut.</p>
<p>Sang pendeta berkata, &#8220;Aku akan mengajukan kepada anda 22 pertanyaan dan anda harus menja-wabnya dengan tepat.&#8221;<br />
Si pemuda tersenyum dan berkata, &#8220;Silahkan!</p>
<p>Sang pendeta pun mulai bertanya, &#8220;Sebutkan satu yang tiada duanya, dua yang tiada tiganya, tiga yang tiada empatnya, empat yang tiada limanya, lima yang tiada enamnya, enam yang tiada tujuhnya, tujuh yang tiada delapannya, delapan yang tiada sembilannya, sembilan yang tiada sepuluhnya, sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh, sebelas yang tiada dua belasnya, dua belas yang tiada tiga belasnya, tiga belas yang tiada em-pat belasnya. Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh! Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa isinya? Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam surga? Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia tidak menyu-kainya? Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan tanpa ayah dan ibu! Siapakah yang tercipta dari api, siapakah yang diadzab dengan api dan siapakah yang terpelihara dari api? Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yang diadzab dengan batu dan siapakah yang terpelihara dari batu? Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap besar! Pohon apakah yang mempu-nyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan dan dua di bawah sinaran matahari?&#8221;</p>
<p>Mendengar pertanyaan tersebut pemuda itu ter-senyum dengan senyuman mengandung keyakinan kepada Allah. Setelah membaca basmalah ia berkata,<br />
-Satu yang tiada duanya ialah Allah SWT.<br />
-Dua yang tiada tiganya ialah malam dan siang. Allah SWT berfirman,<br />
&#8220;Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tan-da (kebesaran kami).&#8221; (Al-Isra&#8217;: 12).</p>
<p>-Tiga yang tiada empatnya adalah kekhilafan yang dilakukan Nabi Musa ketika Khidir menenggelamkan sampan, membunuh seorang anak kecil dan ketika me-negakkan kembali dinding yang hampir roboh.</p>
<p>-Empat yang tiada limanya adalah Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur&#8217;an.<br />
-Lima yang tiada enamnya ialah shalat lima waktu.</p>
<p>-Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlah hari ke-tika Allah SWT menciptakan makhluk.</p>
<p>-Tujuh yang tiada delapannya ialah langit yang tujuh lapis. Allah SWT berfirman,<br />
&#8220;Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.&#8221; (Al-Mulk: 3).</p>
<p>-Delapan yang tiada sembilannya ialah malaikat pemikul Arsy ar-Rahman. Allah SWT berfirman,<br />
þ&#8221;Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat men-junjung &#8216;Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka.&#8221; (Al-Haqah: 17).</p>
<p>-Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu&#8217;jizat yang diberikan kepada Nabi Musa j: tongkat, tangan yang bercahaya, angin topan, musim paceklik, katak, darah, kutu dan belalang.*</p>
<p>-Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah ke-baikan. Allah SWT berfirman,<br />
&#8220;Barangsiapa yang berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh kali lipat.&#8221; (Al-An&#8217;am: 160).</p>
<p>-Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah saudara-saudara Yusuf j.<br />
-Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah mu&#8217;jizat Nabi Musa j yang terdapat dalam firman Allah,<br />
&#8220;Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, &#8216;Pukullah batu itu de-ngan tongkatmu.&#8217; Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air.&#8221; (Al-Baqarah: 60).</p>
<p>-Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah saudara Yusuf ditambah dengan ayah dan ibunya.</p>
<p>-Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruh adalah waktu Shubuh. Allah SWT ber-firman,<br />
&#8220;Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai menying-sing.&#8221; (At-Takwir: 18).</p>
<p>-Kuburan yang membawa isinya adalah ikan yang menelan Nabi Yunus AS.<br />
-Mereka yang berdusta namun masuk ke dalam surga adalah saudara-saudara Yusuf j, yakni ketika mereka berkata kepada ayahnya, &#8220;Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala.&#8221; Setelah kedustaan terungkap, Yusuf berkata kepada mereka, &#8221; tak ada cercaaan ter-hadap kalian.&#8221; Dan ayah mereka Ya&#8217;qub berkata, &#8220;Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&#8221;</p>
<p>-Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak Dia sukai adalah suara keledai. Allah SWT berfirman,<br />
&#8220;Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara kele-dai.&#8221; (Luqman: 19).</p>
<p>-Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapak dan ibu adalah Nabi Adam, malaikat, unta Nabi Shalih dan kambing Nabi Ibrahim.</p>
<p>-Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diadzab dengan api ialah Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim. Allah SWT berfirman, &#8220;Wahai api dinginlah dan selamatkan Ibrahim.&#8221; (Al-Anbiya&#8217;: 69).</p>
<p>-Makhluk yang terbuat dari batu adalah unta Nabi Shalih, yang diadzab dengan batu adalah tentara bergajah dan yang terpelihara dari batu adalah Ash-habul Kahfi (penghuni gua).</p>
<p>-Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalah tipu daya wanita, sebagaimana firman Allah SWT,<br />
þ&#8221;Sesungguhnya tipu daya kaum wanita itu sangatlah besar.&#8221; (Yusuf: 28).</p>
<p>-Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah sinaran matahari maknanya: Pohon adalah tahun, ranting adalah bulan, daun adalah hari dan buahnya adalah shalat yang lima waktu, tiga dikerjakan di malam hari dan dua di siang hari.</p>
<p>Pendeta dan para hadirin merasa takjub mende-ngar jawaban pemuda muslim tersebut. Kemudian ia pamit dan beranjak hendak pergi. Namun ia mengu-rungkan niatnya dan meminta kepada pendeta agar menjawab satu pertanyaan saja. Permintaan ini dise-tujui oleh sang pendeta. Pemuda ini berkata, &#8220;Apakah kunci surga itu?&#8221; mendengar pertanyaan itu lidah sang pendeta menjadi kelu, hatinya diselimuti keraguan dan rona wajahnya pun berubah. Ia berusaha menyem-bunyikan kekhawatirannya, namun hasilnya nihil. Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mende-saknya agar menjawab pertanyaan tersebut, namun ia berusaha mengelak.</p>
<p>Mereka berkata, &#8220;Anda telah melontarkan 22 per-tanyaan kepadanya dan semuanya ia jawab, sementara ia hanya memberimu satu pertanyaan namun anda tidak mampu menjawabnya!&#8221; Pendeta tersebut berka-ta, &#8220;Sungguh aku mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, namun aku takut kalian marah.&#8221; Mereka menjawab, &#8220;Kami akan jamin keselamatan anda.&#8221; Sang pendeta pun berkata, &#8220;Jawabannya ialah: Asyhadu an La Ilaha Illallah wa anna Muhammadar Rasulullah.&#8221;</p>
<p>Lantas sang pendeta dan orang-orang yang hadir di gereja itu memeluk agama Islam. Sungguh Allah telah menganugrahkan kebaikan dan menjaga mereka dengan Islam melalui tangan seorang pemuda muslim yang bertakwa.**</p>
<p>* Penulis tidak menyebutkan yang kesembilan (pent.)<br />
** Kisah nyata ini diambil dari Mausu&#8217;ah al-Qishash al-Waqi&#8217;ah melalui internet, www.gesah.net</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abiaqila.wordpress.com/847/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abiaqila.wordpress.com/847/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abiaqila.wordpress.com/847/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abiaqila.wordpress.com/847/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abiaqila.wordpress.com/847/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abiaqila.wordpress.com/847/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abiaqila.wordpress.com/847/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abiaqila.wordpress.com/847/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abiaqila.wordpress.com/847/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abiaqila.wordpress.com/847/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abiaqila.wordpress.com/847/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abiaqila.wordpress.com/847/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abiaqila.wordpress.com/847/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abiaqila.wordpress.com/847/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abiaqila.wordpress.com&amp;blog=9437074&amp;post=847&amp;subd=abiaqila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiaqila.wordpress.com/2010/06/21/kisah-nyata-seorang-pemuda-arab-yang-menimba-ilmu-di-amerika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5e93d86227409264c4c3490b61448e06?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abi aqila</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:HXYlGLwl61xuFM:http://www.babble.com/CS/blogs/strollerderby/american-flag-2a.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Yang Kita Lupakan Dalam Menuntut Ilmu</title>
		<link>http://abiaqila.wordpress.com/2010/04/20/yang-kita-lupakan-dalam-menuntut-ilmu/</link>
		<comments>http://abiaqila.wordpress.com/2010/04/20/yang-kita-lupakan-dalam-menuntut-ilmu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2010 03:01:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abi aqila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiaqila.wordpress.com/?p=837</guid>
		<description><![CDATA[Bertahun-tahun sudah kita luangkan waktu kita untuk menuntut ilmu. Suka duka yang dirasakan juga begitu banyak. Mengingat masa lalu terkadang membuat kita tersenyum, tertawa dan terkadang membuat kita menangis. Inilah kehidupan yang harus kita jalani. Kehidupan sebagai seorang thalibul’ilmi. Akan tetapi, mungkin kita sering melupakan, apakah ilmu yang kita dapatkan adalah ilmu yang bermanfaat ataukah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abiaqila.wordpress.com&amp;blog=9437074&amp;post=837&amp;subd=abiaqila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn%3Ar9V9WmcNVs_iTM%3Ahttp%3A%2F%2Fyarasulullah.files.wordpress.com%2F2009%2F08%2Fkitab-sunan-nasai.png%3Fw%3D258%26h%3D300&#038;w=100&#038;h=116" alt="" width="100" height="116" />Bertahun-tahun sudah kita luangkan waktu kita untuk menuntut ilmu.  Suka duka yang dirasakan juga begitu banyak. Mengingat masa lalu  terkadang membuat kita tersenyum, tertawa dan terkadang membuat kita  menangis. Inilah kehidupan yang harus kita jalani. Kehidupan sebagai  seorang thalibul’ilmi. Akan tetapi, mungkin kita sering melupakan,  apakah ilmu yang kita dapatkan adalah ilmu yang bermanfaat ataukah  sebaliknya.<br />
Penulis teringat sebuah hadis yang diriwayatkan oleh seorang sahabat  yang bernama Zaid bin Arqam <em>radhiallahu ‘anhu</em> bahwa Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> pernah berkata,</p>
<h3>اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ  لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ  لَهَا</h3>
<p>Artinya: <em>“Ya Allah. Sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau  dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa  yang tidak pernah merasa kenyang dan dari doa yang tidak dikabulkan.”</em> (HR Muslim No. 6906 dan yang lainnya dengan lafaz-lafaz yang mirip)<br />
<span id="more-837"></span><br />
Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> saja, yang dijamin  oleh Allah untuk menjadi pemimpin Bani Adam di hari akhir nanti, sangat  sering mengulang doa-doa ini, apalagi kita, yang sangat banyak  berlumuran dosa, sudah seharusnya selalu membacanya.</p>
<p>Mengetahui ciri-ciri ilmu yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat  sangatlah penting. Oleh karena itu, berikut ini penulis sebutkan  beberapa ciri ilmu  yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat yang penulis ambil dari  kitab Al-Hafiz Ibnu Rajab Al-Hanbali yang berjudul Bayan <em>Fadhli  ‘Ilmissalaf ‘ala ‘Ilmilkhalaf</em>.</p>
<p><strong>Ciri-ciri ilmu yang bermanfaat di dalam diri seseorang:</strong></p>
<ol>
<li>Menghasilkan rasa takut dan cinta kepada Allah.</li>
<li>Menjadikan hati tunduk atau khusyuk kepada Allah dan merasa hina di  hadapan-Nya dan selalu bersikap tawaduk.</li>
<li>Membuat jiwa selalu merasa cukup (qanaah) dengan hal-hal yang halal  walaupun sedikit yang itu merupakan bagian dari dunia.</li>
<li>Menumbuhkan rasa zuhud terhadap dunia.</li>
<li>Senantiasa didengar doanya.</li>
<li>Ilmu itu senantiasa berada di hatinya.</li>
<li>Menganggap bahwa dirinya tidak memiliki sesuatu dan kedudukan.</li>
<li>Menjadikannya benci akan tazkiah dan pujian.</li>
<li>Selalu mengharapkan akhirat.</li>
<li>Menunjukkan kepadanya agar lari dan menjauhi dunia. Yang paling  menggiurkan dari dunia adalah kepemimpinan, kemasyhuran dan pujian.</li>
<li>Tidak mengatakan bahwa dia itu memiliki ilmu dan tidak mengatakan  bahwa orang lain itu bodoh, kecuali terhadap orang-orang yang  menyelisihi sunnah dan ahlussunnah. Sesungguhnya dia mengatakan hal itu  karena hak-hak Allah, bukan untuk kepentingan pribadinya.</li>
<li>Berbaik sangka terhadap ulama-ulama salaf (terdahulu) dan berburuk  sangka pada dirinya.</li>
<li>Mengakui keutamaan-keutamaan orang-orang yang terdahulu di dalam  ilmu dan merasa tidak bisa menyaingi martabat mereka.</li>
<li>Sedikit berbicara karena takut jika terjadi kesalahan dan tidak  berbicara kecuali dengan ilmu. Sesungguhnhya, sedikitnya  perkataan-perkataan yang dinukil dari orang-orang yang terdahulu  bukanlah karena mereka tidak mampu untuk berbicara, tetapi karena mereka  memiliki sifat wara’ dan takut pada Allah Taala.</li>
</ol>
<p><strong>Adapun ciri-ciri ilmu yang tidak bermanfaat di dalam diri  seseorang:</strong></p>
<ol>
<li>Ilmu yang diperoleh hanya di lisan bukan di hati.</li>
<li>Tidak menumbuhkan rasa takut pada Allah.</li>
<li>Tidak pernah kenyang dengan dunia bahkan semakin bertambah semangat  dalam mengejarnya.</li>
<li>Tidak dikabulkan doanya.</li>
<li>Tidak menjauhkannya dari apa-apa yang membuat Allah murka.</li>
<li>Semakin menjadikannya sombong dan angkuh.</li>
<li>Mencari kedudukan yang tinggi di dunia dan berlomba-lomba untuk  mencapainya.</li>
<li>Mencoba untuk menyaing-nyaingi para ulama dan suka berdebat dengan  orang-orang bodoh.</li>
<li>Tidak menerima kebenaran dan sombong terhadap orang yang mengatakan  kebenaran atau berpura-pura meluruskan kesalahan karena takut  orang-orang lari darinya dan menampakkan sikap kembali kepada kebenaran.</li>
<li>Mengatakan orang lain bodoh, lalai dan lupa serta merasa bahwa  dirinya selalu benar dengan apa-apa yang dimilikinya.</li>
<li>Selalu berburuk sangka terhadap orang-orang yang terdahulu.</li>
<li>Banyak bicara dan tidak bisa mengontrol kata-kata.</li>
</ol>
<p>Al-Hafiz Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata, “Di saat sekarang ini,  manusia boleh memilih apakah dia itu ridha untuk dikatakan sebagai  seorang ulama di sisi Allah ataukah dia itu tidak ridha kecuali disebut  sebagai seorang ulama oleh manusia di masanya. Barang siapa yang merasa  cukup dengan yang pertama, maka dia akan merasa cukup dengan itu… Barang  siapa yang tidak ridha kecuali ingin disebut sebagai seorang ulama di  hadapan manusia, maka jatuhlah ia (pada ancaman Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em>),</p>
<h3>من طلب العلم ليباهي به العلماء أو يماري به السفهاء أو يصرف وجوه الناس  إليه فليتبوأ مقعده من النار</h3>
<p>Artinya: <em>“Barang siapa yang menuntut ilmu untuk menyaing-nyaingi  para ulama, mendebat orang-orang bodoh atau memalingkan wajah-wajah  manusia kepadanya, maka dia itu telah mempersiapkan tempat duduknya dari  neraka.”</em> (*)</p>
<p>*) Dengan Lafaz yang seperti ini, penulis belum menemukannya dengan  sanad yang shahih. Akan tetapi, terdapat lafaz yang mirip dengannya di <em>Sunan  At-Tirmidzi</em> No. 2653 dengan sanad yang hasan, yaitu:</p>
<h3>من طلب العلم ليجاري به العلماء أو ليماري به السفهاء أو يصرف به وجوه  الناس إليه أدخله الله النار</h3>
<p>***</p>
<h3>اللهم إني أسألك علما نافعا و رزقا طيبا و عملا متقبلاز آمين</h3>
<p><strong>Maraji’:</strong></p>
<ol>
<li><em>Bayan Fadhli ‘Ilmissalaf ‘ala ‘Ilmilkhalaf</em> oleh Al-Hafiz  Ibnu Rajab Al-Hanbali, Dar Al-Basya’ir Al-Islamiah</li>
<li><em>Shahih Muslim</em>, Dar As-Salam</li>
<li><em>Sunan At-Tirmidzi</em>, Maktabah Al-Ma’arif</li>
</ol>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ustadz Said Yai Ardiansyah (Mahasiswa Fakultas Hadits,  Jami’ah Islamiyah Madinah, Saudi Arabia)<br />
Artikel <a title="Menuntut Ilmu" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/yang-kita-lupakan-dalam-menuntut-ilmu.html">www.muslim.or.id</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abiaqila.wordpress.com/837/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abiaqila.wordpress.com/837/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abiaqila.wordpress.com/837/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abiaqila.wordpress.com/837/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abiaqila.wordpress.com/837/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abiaqila.wordpress.com/837/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abiaqila.wordpress.com/837/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abiaqila.wordpress.com/837/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abiaqila.wordpress.com/837/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abiaqila.wordpress.com/837/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abiaqila.wordpress.com/837/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abiaqila.wordpress.com/837/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abiaqila.wordpress.com/837/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abiaqila.wordpress.com/837/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abiaqila.wordpress.com&amp;blog=9437074&amp;post=837&amp;subd=abiaqila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiaqila.wordpress.com/2010/04/20/yang-kita-lupakan-dalam-menuntut-ilmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5e93d86227409264c4c3490b61448e06?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abi aqila</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:r9V9WmcNVs_iTM:http://yarasulullah.files.wordpress.com/2009/08/kitab-sunan-nasai.png%3Fw%3D258%26h%3D300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Muraqabah Allah (Merasa Selalu Diawasi Allah)</title>
		<link>http://abiaqila.wordpress.com/2010/04/13/muraqabah-allah-merasa-selalu-diawasi-allah/</link>
		<comments>http://abiaqila.wordpress.com/2010/04/13/muraqabah-allah-merasa-selalu-diawasi-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 02:43:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abi aqila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiaqila.wordpress.com/?p=835</guid>
		<description><![CDATA[Kajian kali ini sangat urgen sekali untuk direnungi sekaligus diamalkan, sebab hanya dengan begitu semua amalan kita akan dapat bernilai. Betapa tidak, bukankah ketika melakukan suatu amalan, seorang hamba selalu berharap agar diganjar oleh Allah dan dinilai-Nya ikhlash karena-Nya bila amalan itu baik dan bila amalan itu buruk, pastilah seorang hamba takut ada yang mengetahuinya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abiaqila.wordpress.com&amp;blog=9437074&amp;post=835&amp;subd=abiaqila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:A5I1Oicu4ZzxGM:http://alatkesehatan-online.com/images/Olympus%2520CX21%2520Microscope%2520Binoculer%2520Mikroskop%2520Binokuler.jpg" alt="" width="87" height="112" />Kajian kali ini sangat urgen sekali untuk direnungi sekaligus diamalkan, sebab  hanya dengan begitu semua amalan kita akan dapat bernilai. Betapa tidak,  bukankah ketika melakukan suatu amalan, seorang hamba selalu berharap agar  diganjar oleh Allah dan dinilai-Nya ikhlash karena-Nya bila amalan itu baik dan  bila amalan itu buruk, pastilah seorang hamba takut ada yang mengetahuinya.  Padahal semua itu pastilah diketahui oleh Allah sebab Dia Maha Mendengar lagi  Maha Melihat.</p>
<p>Karena itu, sudah sepantasnyalah seorang hamba merasa  dirinya selalu diawasi oleh Allah sehingga semua amalannya terjaga dan  dijalankan dengan sebaik-baiknya. Ini semua, tentunya berkat penjagaan seorang  hamba terhadap Rabbnya di mana buahnya, Rabbnya pun akan selalu menjaganya.<br />
<span id="more-835"></span><br />
<strong>Naskah Hadits</strong></p>
<p dir="rtl">عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: «كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْماً, فَقَالَ: يَا غُلاَمُ, إِنّي أُعَلّمُكَ  كِلمَاتٍ: إِحْفَظِ الله يَحْفَظْكَ, إِحْفَظِ الله تجِدْهُ تجَاهَكَ, إِذَا  سَأَلْتَ فَاسْأَلِ الله, وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بالله, وَاعْلَمْ أَنّ  الأُمّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاّ  بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ الله لَكَ, ولو اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرّوكَ بِشَيْءٍ  لَمْ يَضُرّوكَ إِلاّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ الله عَلَيْكَ, رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ  وَجَفّتِ الصّحُف». قال: هَذَا حَديثٌ حسنٌ صحيحٌ.</p>
<p>Dari Ibn ‘Abbas RA., dia berkata, “Suatu hari aku berada di  belakang Nabi SAW., lalu beliau bersabda, <em>‘Wahai Ghulam, sesungguhnya ku  ingin mengajarkanmu beberapa kalimat (nasehat-nasehat), ‘Jagalah Allah, pasti  Allah menjagamu, jagalah Allah, pasti kamu mendapatinya di hadapanmu, bila kamu  meminta, maka mintalah kepada Allah dan bila kamu minta tolong, maka minta  tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, bahwa jikalau ada seluruh umat berkumpul  untuk memberikan suatu manfa’at bagimu, maka mereka tidak akan dapat  memberikannya kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan Allah atasmu, dan jikalau  mereka berkumpul untuk merugikanmu (membahayakanmu) dengan sesuatu, maka mereka  tidak akan bisa melakukan itu kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan Allah  atasmu. Pena-pena (pencatat) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah  kering.</em>” (HR. at-Turmudzy, dia berkata, ‘Hadits Hasan Shahih’. Hadits ini  juga diriwayatkan Imam Ahmad)</p>
<p><strong>Urgensi Hadits</strong></p>
<p>Al-Hafizh  Ibn Rajab RAH., berkata, “Hadits ini mencakup beberapa wasiat agung dan kaidah  <em>Kulliyyah</em> (menyeluruh) yang termasuk perkara agama yang paling urgen.  Saking urgennya, sebagian ulama pernah berkata, ‘Aku sudah merenungi hadits ini,  ternyata ia begitu membuatku tercengang dan hampir saja aku berbuat sia-sia.  Sungguh, sangat disayangkan sekali bila buta terhadap hadits ini dan kurang  memahami maknanya.” (Lihat, <em>Jaami’ al-‘Uluum</em>, Jld.I, h.483)</p>
<p><strong>Kosa Kata</strong></p>
<p>Makna perkataannya:<br />
<em>Di belakang Nabi</em> : yakni di atas kendaraannya<br />
<em>Wahai Ghulam</em> : yakni bocah yang belum  mencapai usia 10 tahun<br />
<em>Jagalah Allah</em> : yakni jagalah  aturan-aturan-Nya (Hudud-Nya) dan komitmenlah terhadap segala perintahnya serta  jauhilah segala larangannya<br />
<em>Pena-pena (pencatat) telah diangkat dan<br />
lembaran-lembaran telah kering</em> : yakni takdir-takdir telah ditetapkan  dan telah dicatat di <em>Lauh al-Mahfuuzh</em></p>
<p><strong>Pesan-Pesan Hadits</strong></p>
<p>1. Hadits di atas menunjukkan perhatian khusus Nabi SAW., terhadap  umatnya dan kerja karas beliau di dalam menumbuhkan mereka di atas ‘aqidah yang  benar dan akhlaq mulia. Di sini (dalam hadits) beliau mengajarkan si bocah ini  –yang tak lain adalah Ibn ‘Abbas- beberapa nasehat dalam untaian yang singkat  namun padat makna.</p>
<p>2. Di antara isi wasiat ini adalah agar menjaga Allah  Ta’ala, yaitu dengan menjaga <em>Hudud-Nya</em>, hak-hak, perintah-perintah dan  larangan-larangan-Nya. Menjaga hal itu dapat direalisasikan dengan melaksanakan  semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dan tidak melanggar apa yang  diperintahkan dan diizinkan-Nya dengan melakukan apa yang dilarang-Nya. Allah  Ta’ala berfirman, <em>“Inilah yang dijanjikankepadamu, (yaitu) kepada setiap  hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua  peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha  Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang  bertaubat.”</em> (Q.s.,Qaaf:32-33)</p>
<p>3. Di antara hal yang terdapat  perintah agar menjaganya secara khusus adalah shalat sebagaimana firman-Nya,  <em>“Jagalah segala shalat(mu), dan (jagalah) shalat Wustha.” </em>(Q.s.,al-Baqarah:238), dan thaharah (kesucian) sebagaimana bunyi hadits  Rasulullah SAW., <em>“Beristiqamahlah (mantaplah) sebab kamu tidak akan mampu  menghitung-hitung. Dan ketahuilah bahwa sebaik-baik pekerjaan kamu adalah shalat  sedangkan yang bisa menjaga wudlu itu hanya seorang Mukmin.”</em> (HR.Ibn Majah).  Di antaranya juga adalah sumpah sebagaimana firman-Nya, <em>“Dan jagalah  sumpahmu.”</em> (Q.s., al-Maa`idah:89)</p>
<p>4. Di antara penjagaan yang  diberikan oleh Allah adalah penjagaan-Nya terhadapnya di dalam kehidupan dunia  dan akhirat:<br />
a. Allah menjaganya di dunia, yaitu terhadap badannya, anaknya  dan keluarganya sebagaimana firman-Nya, <em>“Bagi manusia ada malaikat-malaikat  yang selalu mengikutinya di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas  perintah Allah.”</em> (Q.s., ar-Ra’d:11). Ibn ‘Abbas RA., berkata, “Mereka itu  adalah para malaikat yang menjaganya atas perintahAllah. Dan bila takdir telah  tiba, mereka pun meninggalkannya.” (Dikeluarkan oleh ‘Abduurrazzaq, al-Firyaaby,  Ibn Jarir, Ibn al-Mundzir dan Ibn Abi Haatim sebagai yang disebutkan di dalam  kitab <em>ad-Durr al-Mantsuur</em>, Jld.IV, h.614). Allah juga menjaganya di masa  kecil, muda, kuat, lemah, sehat dan sakitnya.</p>
<p>b. Allah juga menjaganya  di dalam agama dan keimanannya. Dia menjaganya di dalam kehidupannya dari  syubhat-syubhat yang menyesatkan dan syahwat yang diharamkan.</p>
<p>c. Allah  juga menjaganya di dalam kubur dan setelah alam kubur dari kengerian dan  derita-deritanya dengan menaunginya pada hari di mana tiada naungan selain  naungan-Nya</p>
<p>5. Di antara penjagaan Allah lainnya terhadap hamba-Nya  adalah menganugerahinya ketenangan dan kemantapan jiwa sehingga dia selalu  berada di dalam penyertaan khusus Allah. Mengenai hal ini, Allah berfirman  ketika menyinggung tentang Musa dan Harun AS., “Janganlah kamu berdua khawatir,  sesungguhnya Aku berserta kamu berdua; Aku mendengar dan melihat.” (Q.s.,  Thaaha:46) Demikian juga dengan yang terjadi terhadap Nabi dan Abu Bakar  ash-Shiddiq saat keduanya berhijrah dan berada di gua, Rasulullah SAW.,  bersabda, <em>“Apa katamu terhadap dua orang di mana Yang Ketiganya adalah Allah?  Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita.”</em> (HR.Bukhari,  Muslim dan at-Turmudzy)</p>
<p>6. Seorang Muslim wajib mengenal Allah Ta’ala,  ta’at kepada-Nya dan selalu mengadakan kontak dengan-Nya dalam semua kondisinya  sebab orang yang mengenal Allah di dalam kondisi sukanya, maka Allah akan  mengenalnya di dalam kondisi sulitnya dan saat dia berhajat kepada-Nya</p>
<p>7. Terkadang ada orang yang tertipu dengan kondisi kuat, fit, muda,  sehat dan kayanya namun sesungguhnya nasib orang yang demikian ini hanyalah  kerugian, kesia-siaan dan celaka</p>
<p>8. Seorang harus selalu antusias untuk  memperbanyak meminta pertolongan kepada Allah dan memohon kepada-Nya dalam semua  kondisi dan situasi yang dihadapinya. Hendaklah dia tidak memohon kepada  selain-Nya terhadap hal tidak ada yang mampu melakukannya selain Allah seperti  meminta kepada para wali yang shalih, orang mati dan sebagainya. Allah  berfirman, <em>“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu pula kami  meminta tolong.”</em> (Q.s., al-Fatihah:5)</p>
<p>9. Sesungguhny apa-apa yang  menimpa seorang hamba di dunia, baik yang mencelakakan dirinya atau yang  menguntungkannya; semuanya itu sudah ditakdirkan atasnya. Dan tidaklah menimpa  seorang hamba kecuali takdir-takdir yang telah dicatatkan atasnya di dalam kitab  catatan amal sekalipun semua makhluk berupaya untuk melakukannya (mencelakan  dirinya atau memberikan manfa’at kepadanya). Allah berfirman, <em>“Katakanlah,  sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh  Allah bagi kami.”</em> (Q.s.,at-Taubah:51)</p>
<p>10. Bila seorang hamba telah  mengetahui bahwa tidak akan ada yang dapat menimpanya baik berupa kebaikan,  keburukan, hal yang bermanfa’at atau pun membahayakannya kecuali apa yang telah  ditakdirkan oleh Allah darinya, serta mengetahui bahwa seluruh upaya yang  dilakukan semua makhluk karena bertentangan dengan hal yang ditakdirkan tidak  akan ada gunanya sama sekali; maka ketika itulah dia akan mengetahui bahwa hanya  Allah semata Yang memberi mudlarat, Yang menjadikan sesuatu bermanfa’at, Yang  Maha Memberi atau pun Menahannya. Sebagai konsekuensi dari semua itu, seorang  hamba mestilah mentauhidkan Rabbnya dan menunggalkan-Nya dalam berbuat keta’atan  dan menjaga <em>Hudud</em>-Nya.</p>
<p>11. Seorang Muslim harus menghadapi  takdir-takdir Allah yang tidak mengenakkannya dengan penuh keridlaan dan  kesabaran agar bisa meraih pahala atas hal itu. Allah Ta’ala berfirman,  <em>“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan diganjari pahala mereka dengan  tanpa hisab (perhitungan).”</em> (Q.s., az-Zumar:10). Dan dalam sebuah hadits,  Rasulullah SAW., bersabda, <em>“Sungguh aneh kondisi seorang Mukmin; sesungguhnya  semua kondisinya adalah baik, jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur; maka  itu adalah baik baginya. Dan bila ia ditimpa hal yang tidak menguntungkannya  (kemudlaratan), ia bersabar; maka itu adalah baik (pula) baginya.”</em> (HR.Muslim)</p>
<p>12. Seorang Muslim tidak boleh dihantui keputusasaan dan  pupus harapan terhadap rahmat Allah ketika mengalami suatu problem atau musibah.  Ia harus bersabar dan mengharap pahala dari Allah atas hal itu serta  bercita-cita agar mendapatkan kemudahan (jalan keluar) sebab sesungguhnya  kemenangan itu bersama kesabaran dan bersama kesulitan itu ada kemudahan</p>
<p>(SUMBER: <em>Silsilah Manaahij Dawraat al-‘Uluum asy-Syar’iyyah  –al-Hadiits- Fi`ah an-Naasyi`ah</em>, karya Prof.Dr.Faalih bin Muhammad  ash-Shaghiir, h.104-109)Compiled By : HaditsWEB.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abiaqila.wordpress.com/835/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abiaqila.wordpress.com/835/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abiaqila.wordpress.com/835/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abiaqila.wordpress.com/835/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abiaqila.wordpress.com/835/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abiaqila.wordpress.com/835/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abiaqila.wordpress.com/835/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abiaqila.wordpress.com/835/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abiaqila.wordpress.com/835/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abiaqila.wordpress.com/835/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abiaqila.wordpress.com/835/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abiaqila.wordpress.com/835/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abiaqila.wordpress.com/835/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abiaqila.wordpress.com/835/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abiaqila.wordpress.com&amp;blog=9437074&amp;post=835&amp;subd=abiaqila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiaqila.wordpress.com/2010/04/13/muraqabah-allah-merasa-selalu-diawasi-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5e93d86227409264c4c3490b61448e06?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abi aqila</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:A5I1Oicu4ZzxGM:http://alatkesehatan-online.com/images/Olympus%2520CX21%2520Microscope%2520Binoculer%2520Mikroskop%2520Binokuler.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
