Fenomena Waktu

sand glassMereka yang mengamati semua peristiwa sejarah sejak Nabi Adam sampai hari ini, pasti yakin bahwa tidak ada tempat bagi orang yang tidak berguna dalam hidup.

Lain halnya bagi mereka yang kuat dalam beramal, mereka saling berkompetisi dalam mencapai puncak kemuliaan, yaitu Ridha Allah Ta’ala. Pada kesempatan ini kembali kita akan menyinggung untuk kesekian kalinya tentang fenomena waktu yang ‘tidak pernah menunggu’ siapapun, ia akan terus berjalan sesuai dengan kehendak Rabbnya. Edisi kali ini al-Balagh akan mengurai fenomena klasik yaitu, keluhan hampir semua orang; banyaknya tugas dan minimnya waktu yang tersedia. Selamat menyimak…

Mereka yang mengamati kondisi kaum muslimin akan membuat perkiraan, bahwa kebanyakan orang shalih yang menapaki jalan amal pada usia kurang lebih  dua puluh tahun. Kalau kita jadikan ukuran umur ummat Rasulullah enam puluh tahun, itu artinya ia telah kehilangan kira-kira sepertiga usianya tanpa memanfaatkannya. Dan ini adalah kenyataan. Katakanlah seorang yang shalih  hidup di dunia ini selama enampuluh tahun jadi yang tersisa lagi empat puluh tahun. Sisa umur tersebut itu berjalan kurang lebih sebagai berikut:

Pertama, sepertiga usia digunakan untuk tidur. Dalam batas tertentu tidur adalah kebutuhan setiap orang, namun kalau sudah melewati ambang batas, maka ini tentu adalah kerugian nyata. Seperti ada orang tidur 12 jam itu berartinya setengah dari kehidupan. Ada yang tidur 8 jam sehari yang berarti dari usia 40 tahun itu berkurang dari 13 tahun 6 bulan.

Kedua, sepertiga usia digunakan untuk bekerja. Ini juga menurut kebiasaan karena ada manusia yang memiliki dua atau tiga pekerjaan. Dengan demikian, bila sepertiga waktunya untuk bekerja dari usia 4o tahun, umur yang tersisa  tinggal 13 tahun enam bulan lagi

Ketiga, dengan perincian di atas maka usia yang tersisa bagi mereka yang berusia 60 tahun tinggal 13 tahun saja sisa usia tersebut digunakan  untuk melaksanakan  kewajiban yang lain, seperti menikah, mendidik anak, bersilaturrahim, mengunjungi teman, makan dan minum, pergi ke pasar dan seterusnya. Inipun kita belum mengkalkulasi waktu yang kita gunakan untuk sekedar bersenda gurau, bercanda yang tidak jelas ujung pangkalnya. Jadi kira-kira masih adakah usia yang tersisa untuk mencapai akhirat dan berlomba-lomba mendapatkan kenikmatannya ?

Inilah Salaf kita
Para salafus shalih selalu berusaha mengurangi waktu tidur, bekerja dan pemenuhan kebutuhan mereka yang lain sehingga tersedia waktu yang lebih banyak untuk meraih prestasi akhirat. Inilah Imam an-Nawawi, yang riwayat hidupnya layak untuk kita angkat sebagai yang paling ideal dari salaf kita dalam mengelola waktu.

Ketika Imam an-Nawawi pindah dari kampung kelahirannya, Nawa, ke Damaskus beliau semakin giat menggunakan waktunya selama dua tahu penuh beliau tidak merebahkan tubuhnya di lantai untuk tidur. Beliau tidur hanya dengan merebahkan kepala dan sebagian tubuhnya di atas buku. Hari-harinya diisi dengan belajar, memperbanyak ibadah seperti shalat malam, shaum sepanjang hari, dan bersikap wara’ dan zuhud. Setiap harinya beliau beliau mempelajari dua belas mata pelajaran dari satu guru ke guru yang lain. Beliau menjadi panutan  dalam hal menuntut ilmu.

Beliau pernah berkata,”jika kantuk mengalahkanku maka aku bersandar pada bukuku sebentar, lalu aku terbangun.” Salah seorang kawan beliau pernah datang membawakan makanan untuknya, tapi makanan itu sedikitpun tidak disentuhnya. Ketika ditanya tentang itu beliau berkata,”Saya khawatir tubuhku kenyang dan menjadikan aku terkantuk.” Diriwayatkan bahwa beliau sehari semalam tidak makan kecuali sekali, yaitu pada akhir isya dan tidak minum kecuali sekali pada waktu sahur. Beliau memakan roti yang dibawakan oleh ayah beliau dari negeri Nawa yang ia buat sendiri dengan tangannya, dan roti itu cukup beliau makan dalam seminggu. Beliau juga tidak makan kecuali satu jenis makanan saja. Adapun daging beliau memakannya hanya sekali dalam sebulan saja

Inilah sepotong kisah yang layak dijadikan contoh. Tentu kita tidak harus seperti persis dengan Imam an-Nawawi dalam mengurangi makan dan minum sebab setiap orang berbeda kemampuan dan potensi yang diberikan Allah. Karena itu ‘ibrah yang patut kita ambil dalam potongan kisah di atas  adalah semangat dalam mencapai cita-cita mulia harus dengan memaksimalkan waktu-waktu berharga dan memangkas semua pekerjaan yang kira-kira menghambat meraih cita-cita utama.

Karena itu, tidakkah kita melihat bagaimana orang-orang shalih memanfatkan waktu mereka, bahkan mereka harus berkejaran dengan waktu. Semua itu tak lain karena mereka mengetahui betul  nilai dan singkatnya waktu sehingga mereka memanfaatkannya sebaik mungkin, bahkan terkesan berlebih-lebihan sehingga harus mengurangi jatah makanan  yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Tapi, demikianlah selalu keadaan orang-orang yang memiliki himmah al-‘liyah (cita-cita yang tinggi) jasad terkadang harus mengalah demi cita-cita mulia.

(Al Balagh Ed. 73/Th.II/1427 H)
Sumber : http://www.wahdah.or.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: