Kaidah Memahami Perselisihan & Perpecahan

pena-pragdave-pragprog-comPerpecahan dan kehancuran sering ditimbulkan karena seseorang atau sekelompok orang tidak mampu untuk memahami kaidah-kaidah Islam dalam berselisih pendapat. Yang dimaksud di sini adalah mengenal hukum-hukum berbeda pendapat antara dua orang muslim atau lebih dan efek yang timbul di balik itu. Mana saja yang boleh diperselisihkan dan mana yang tidak. Jika ada seseorang menyelisihi, bilakah penyelisihannya itu dapat ditolerir? Bilakah kita boleh memvonisnya kafir atau fasik? Apakah vonis seperti itu boleh dijatuhkan oleh siapa saja dan kapan saja?

Banyak sekali orang yang tidak mengetahui perincian masalah tersebut. Bahkan ditambah lagi akibat tidak adanya pemahaman dan pengamalan yang benar tentang adab Islam yang shohih, tidak sedikit diantara kita yang merasa yakin kita benar namun dalam upaya dakwah atau penjelasan kepada orang lain sering menggunakan istilah-istilah atau intonasi yang kotor dan “kurang pada tempatnya”. Sangat sering dari sinilah muncul perpecahan yang seharusnya tidak terjadi, bahkan menjatuhkan kemulian sebuah kebenaran dan menyebabkan kehinaan karena kelemahan orang-orang yang merasa kuat dan benar tersebut.

Demikian pula jika dangkalnya pemahaman tentang kaidah-kaidah ijma’ dan jama’ah. Memahami kaidah-kaidah tersebut sangat penting sekali yang dewasa ini banyak diabaikan oleh mayoritas penuntut ilmu syar’i. Di samping mereka juga tidak memahami tujuan dan makna persatuan umat, kaidah-kaidah jama’ah, bahkan banyak di antara mereka yang tidak mengerti titik-titik rawan perpecahan dan sebab terjadinya, titik rawan fitnah dan sebab pecahnya fitnah. Mereka tidak memahami mana saja hukum-hukum dan kaidah-kaidah yang tetap dan yang dapat berubah-ubah.

Ciri mereka adalah jahil terhadap kaidah-kaidah umum syari’at dan hikmah-hikmah umum syari’at, seperti kaidah-kaidah yang berkaitan ‘mengambil maslahat dan menolak mafsadah’, kaidah ‘kesulitan mendatangkan kemudahan’, kaidah penetapan bilakah seseorang mendapat dispensasi, bilakah kaidah ‘darurat’ dapat diterapkan, dan bagaimana caranya menerapkan seperangkat kaidah tentang ‘darurat’, hukum-hukum pada masa fitnah, perdamaian. Mereka juga tidak mengetahui kaidah dan etika bermu’amalah terhadap orang yang beselisih pendapat dengannya, etika terhadap ulama dan penguasa. Oleh karena itu kita dapati banyak di antara mereka yang tidak dapat membedakan antara kondisi gawat dan fitnah dengan kondisi aman dan damai, akibatnya keliru dalam berkomentar dan menetapkan hukum. Ini jelas merupakan kekeliruan besar dan salah satu sebab perpecahan, yang tidak jarang menjadi titik kehancuran dari dakwah Islam secara keseluruhan di wilayah terjadinya perpecahan tersebut.

Banyak orang yang berkomentar tentang sebuah fitnah adalah orang-orang yang tidak mengerti hukum seputar fitnah, dan kapan waktunya harus angkat bicara dan kapan waktunya harus diam. Kapan kita boleh mengomentari seseorang dan menjatuhkan vonis atasnya dan kapan hal itu tidak dibolehkan. Sementara ia tidak punya pengetahuan tentang kemaslahatan umat Islam yang besar. Kemaslahatan yang berlaku bagi terciptanya persatuan umat Islam. Bagaimana menyatukan persepsi dan mengadakan perdamaian. Serat keharusan menahan diri berbicara apabila dengannya api fitnah akan berkobar. Dan menjauh dari pertikaian yang tengah terjadi antara dua kelompok muslim di tengah-tengah situasi fitnah, mencegah kerusakan dan tindakan-tindakan lainnya.

Sungguh banyak sekali orang yang tidak memiliki bashirah dan ilmu pengetahuan mencampuri persoalan ini. Mereka tidak mengambil petunjuk dari ucapan ahli ilmu dan tidak meminta pengarahan dari para syaikh yang ada di tengah-tengah mereka. Mereka justru berambisi agar para ulama menerima pendapat-pendapat mereka. Akan tetapi mereka sendiri tidak mau mendengar arahan para ulama.

Uraian diatas tidaklah menghambat kita untuk tetap menyerukan kebenaran, untuk tetap menyerukan batasan antara Haq dan Bathil, dan untuk tetap berupaya menegakkan syariat Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan berseru untuk menghentikan kemungkaran. Namun disini selain untuk muhasabah diri, juga untuk mengajak kita semua untuk lebih memahami dan mengamalkan Islam secara keseluruhan. Karena penanaman Aqidah Islam dan Manhaj Shohih seseorang yang benar akan membuahkan tidak hanya sebatas Ilmu yang shohih namun seiring dengannya adalah Amal dan Akhlaq yang mulia, tutur kata yang indah, himbauan-himbauan yang menggunakan adab Islam (bukan mengumbar nafsu), seruan-seruan yang menyejukkan telinga (bukan melecehkan manusia lainnya), kedewasaan dan kematangan dalam berdakwah.

Semuanya itu ada dalam tuntunan dari Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam, apabila kita benar-benar telah mendalami agama ini. Semoga penulis yang lemah dan serba kekurangan ini beserta semua umat Islam, diberikan kekuatan dan hidayah serta kesempatan dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala untuk terus mempelajarinya dan tiada henti mengamalkannya.amin.., Wallohu A’lam bish showaab.

Sumber : Mediamuslim.org
Disadur Dari (dengan judul alternatif) : http://abuthalhah.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: