Mewaspadai Musuh Bermuka Dua

Sejarah nubuwah dan perjalanan para khulafa ar rosyidin serta orang-orang setelahnya memberikan pelajaran penting guna membangun kejayaan Islam serta membendung makar-makar jahat yang dikemudikan kaum kuffar. Satu hal yang kita tidak boleh lengah, ancaman “musuh bermuka dua” dimana musuh yang satu ini mempunyai andil besar dalam memecah belah kaum muslimin dulu dan sekarang.

Allah berfirman, “Dan (di antara orang-orang munafiq itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mu`min), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mu`min serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan RasulNya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah: ‘Kami tidak menghendaki selain kebaikan.’ Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).” (QS At Taubah: 107).

Tidaklah orang-orang kafir dapat leluasa mondar-mandir di negara-negara Islam kecuali sebab mereka, tidaklah pertikaian terjadi antar kaum muslimin melainkan merekalah yang menjadi pemicunya.

Oleh karena itulah musuh yang bermuka dua ini lebih berbahaya daripada orang-orang kafir, karena orang-orang kafir keadaannya sangatlah jelas memungkinkan untuk dapat mengetahuinya. Adapun mereka musuh yang bermuka dua keadaannya amatlah tersembunyi, tidak mudah dan gampang untuk dapat mengetahuinya, sebab terkadang mereka datang dengan wajah seorang muslim bila di tengah-tengah kaum muslimin dan kembali dengan wajah seorang kafir bila berada di antara kaum kuffar.

Mereka itulah orang-orang yang disebut Allah dan RosulNya dengan sebutan munafiq. Allah berfirman, “Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: ‘Kami telah beriman.’ Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: ‘Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok olok.'” (QS Al Baqoroh: 14).

Makanya dalam sejarah kaum muslimin orang-orang munafiq ini benar-benar nampak di Madinah, adapun di Mekkah tidaklah manusia itu kecuali satu dari dua keadaan, musyrik atau kafir dan muslim muwahhid.

Para pembaca -semoga Allah menjagamu- meskipun orang-orang munafiq pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para khulafanya serta orang-orang setelahnya bahayanya sangat besar, maka sesungguhnya orang-orang munafiq pada masa kita ini lebih dari itu (bahayanya). Dengan demikian mengetahui mereka dan sifat-sifatnya secara keseluruhan adalah di antara kewajiban yang paling penting bagi kaum muslimin, sehingga dapat terhindar dari bahayanya dan menutup seluruh pintu-pintu yang dengannya mereka merusak kehidupan kaum muslimin, merekalah gembong firqoh yang telah menyembelih tubuh umat Islam.

Di antara makar dan langkah-langkah yang mereka tempuh untuk menghancurkan Islam adalah:

1. Menghendaki terjadinya penyimpangan. Allah berfirman, “Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolongmu, hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorang pun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong.” (QS An Nisaa`: 89).

2. Mencela sumber-sumber dienul Islam serta metode pengambilan ilmu dari Kitab dan Sunnah. Allah berfirman, “Dan apabila diturunkan suatu surat maka di antara mereka (orang-orang munafiq) ada yang berkata: ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (QS At Taubah: 124-125).

3. Mencela para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman, “(Orang-orang munafiq) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mu`min yang memberi sedekah dengan suka rela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafiq itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka adzab yang pedih.” (QS At Taubah: 79).

4. Menciptakan kekacauan dan menyebarkan keragu-raguan. Allah berfirman, “Dan bila dikatakan kepada mereka: ‘Jangalah kamu membuat kerusakan di muka bumi.’ Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.’ Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (QS Al Baqoroh: 11-12). “Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.” (QS Al Baqoroh: 205).
5. Meniupkan api perpecahan dalam barisan kaum muslimin. Allah berfirman, “Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar): ‘Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rosulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rosulullah).’ Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafiq itu tidak memahami.” (QS Al Munafiquun: 7). “Dan (di antara orang-orang munafiq itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mu`min), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mu`min serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan RosulNya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah: ‘Kami tidak menghendaki selain kebaikan.’ Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).” (QS At Taubah: 107).
6. Menyembunyikan nash-nash yang menunjukkan hakikat Islam. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nat oleh Allah dan dila’nat (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat mela’nati.” (QS Al Baqoroh: 159).

Nyatalah bahwa kemunafikan para munafiqin adalah ancaman yang berat dan bahaya yang besar terhadap Islam dan muslimin, oleh karenanya di samping Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk berjihad melawan orang-orang kafir,

Allah juga memerintahkan untuk memerangi kaum munafiqin. Allah berfirman, “Hai Nabi berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafiq itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka, tempat mereka itu ialah neraka jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya, mereka (orang-orang munafiq itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela (Allah dan RosulNya), kecuali karena Allah dan RosulNya telah melimpahkan karuniaNya kepada mereka.

Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengadzab mereka dengan adzab yang pedih di dunia dan di akhirat dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak pula penolong di muka bumi.” (QS At Taubah: 73-74).

Lain daripada itu Allah subhanahu wa ta’ala telah membongkar keadaan mereka (para munafiqin) di banyak ayat dalam Al Qur`an dan mengancam mereka dengan ancaman yang keras.

Allah berfirman, “Orang-orang munafiq laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafiq itulah orang-orang yang fasiq. Allah mengancam orang-orang munafiq laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka; dan Allah mela’nati mereka dan bagi mereka adzab yang kekal. (Keadaan kamu hai orang-orang munafiq dan musyrik adalah) seperti keadaan orang-orang yang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, dan lebih banyak harta benda dan anak-anaknya daripada kamu. Maka mereka telah meni’mati bagian mereka, dan kamu telah meni’mati bagianmu sebagaimana orang-orang yang sebelummu meni’mati bagiannya, dan kamu mempercakapkan (hal yang batil) sebagaimana mereka mempercakapkannya.

Mereka itu, amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat; dan mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS At Taubah: 67-69).

“Apabila orang-orang munafiq datang kepadamu, mereka berkata: ‘Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rosul Allah.’ Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar RosulNya, dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafiq itu benar-benar pendusta.

Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan.” (QS Al Munafiquun: 1-2).

“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka.” (QS Al Munafiquun: 4).

“Allah telah menyediakan bagi mereka adzab yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka halangi (manusia) dari jalan Allah, karena itu mereka mendapat adzab yang menghinakan. Harta benda dan anak-anak mereka tiada berguna sedikitpun (untuk menolong) mereka dari adzab Allah. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS Al Mujaadilah: 15-16).

“(Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka telah merasai akibat buruk dari perbuatan mereka dan bagi mereka adzab yang pedih.” (QS Al Hasyr: 15).

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kemudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Allah tidak akan memberikan ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus. Kabarkanlah kepada orang-orang munafiq bahwa mereka kaan mendapat siksaan yang pedih.” (QS An Nisaa`: 137-138).

Wal ‘ilmu ‘indallah.

Ditulis oleh Al Ustadz Abu Hamzah Al Atsary.

Sumber : Bulletin Al-Wara  Al Bara
Edisi ke-5 Tahun ke-2 / 26 Desember 2003 M / 03 Dzul Qo’dah 1424 H
Ma’had Adhwa`us-sala

Comments are closed.

%d bloggers like this: